Banyak peternak puyuh merasa untung karena telurnya laku, padahal belum menghitung titik impasnya. Dua angka yang membantu adalah BEP (Break Even Point), yaitu batas produksi atau harga supaya tidak rugi, dan ROI (Return on Investment), yaitu seberapa cepat modal kembali. Di artikel ini saya hitung keduanya dengan angka dari kandang 1.150 ekor Autumn saya, bukan dengan angka rekaan.
Ringkasnya: dengan harga telur Rp310 per butir, biaya pakan kandang saya (Rp179.400 per hari) sudah tertutup oleh sekitar 579 butir per hari, sekitar 50 persen produksi. Tetapi kalau harga turun ke Rp160 per butir, pakan saja sudah tidak tertutup. Jadi yang menentukan bukan hanya produksi, melainkan harga telur dan seluruh biaya di luar pakan.
Satuannya Butir, Bukan Kilogram
Di Sumatera Barat telur puyuh dijual per butir atau per tray isi 100 butir, bukan per kilogram. Karena itu semua hitungan di sini memakai butir. Kalau di daerah Anda dijual per kilogram, cukup ganti satuannya dan logikanya sama.
Biaya Harian di Kandang Telur
Pada usaha puyuh petelur, pakan diberikan per ekor, bukan per butir telur. Jatah pakan hari itu tetap sama meski telur yang keluar lebih sedikit. Karena itu saya memperlakukan pakan sebagai biaya harian. Kandang dengan 1.150 ekor Autumn saya memakan 26 gram per ekor per hari, jadi:
- Pakan: 1.150 × 26 gram = 29,9 kg per hari
- Harga pakan sekitar Rp6.000 per kg, jadi biaya pakan Rp179.400 per hari (Rp5.382.000 per 30 hari)
Pakan adalah komponen terbesar. Dari catatan saya, bisa lebih dari 70 persen biaya produksi. Biaya lain yang sering terlupa adalah listrik, vitamin dan obat, tenaga kerja, perawatan kandang, serta penyusutan kandang dan peralatan. Biaya-biaya itu belum saya masukkan di artikel Hasil Ternak 1.150 Ekor Puyuh Selama 30 Hari, jadi keuntungan di sana adalah keuntungan setelah pakan saja.
Menghitung BEP
Untuk kandang telur, saya pakai tiga bentuk BEP yang sederhana:
BEP butir per hari = total biaya harian ÷ harga per butir
BEP produksi (%) = BEP butir ÷ jumlah ekor × 100
BEP harga per butir = total biaya harian ÷ butir yang dipanen per hari
BEP dari biaya pakan saja
- BEP butir: 179.400 ÷ 310 = 579 butir per hari
- BEP produksi: 579 ÷ 1.150 × 100 = 50,3 persen
- BEP harga: 179.400 ÷ 970 = Rp185 per butir (pada panen terendah 970 butir), atau 179.400 ÷ 1.015 = Rp177 per butir (pada panen tertinggi)
Produksi saya 84 sampai 88 persen, jadi ada ruang aman yang lebar untuk menutup pakan. Itu gambaran yang menenangkan, tetapi belum lengkap.
BEP setelah biaya lain dimasukkan
Untuk melihat gambaran lengkap, tambahkan biaya harian di luar pakan. Saya tidak mencantumkan biaya listrik, tenaga kerja, dan penyusutan kandang saya di sini, jadi contoh berikut memakai angka misal: biaya lain Rp50.000 per hari (hanya contoh, silakan ganti dengan angka kandang Anda).
- Total biaya harian: 179.400 + 50.000 = Rp229.400
- BEP butir: 229.400 ÷ 310 = 740 butir per hari
- BEP produksi: 740 ÷ 1.150 × 100 = 64,3 persen
- BEP harga: Rp226 sampai Rp236 per butir (sekitar Rp22.600 sampai Rp23.600 per tray)
Artinya, setelah biaya lain masuk, harga telur tidak boleh jauh turun dari sekitar Rp23.000 per tray kalau produksi di 84 sampai 88 persen. Cara menekan biaya pakan per butir saya bahas di Racik Pakan Puyuh Petelur Sendiri: Hitungan Biaya per Butir Telur.
Menguji Ketahanan: Kalau Harga Telur Turun
BEP paling berguna ketika dipakai untuk menguji skenario. Tabel berikut memakai panen 1.000 butir per hari (dibulatkan dari 970 sampai 1.015) dan biaya pakan Rp179.400 per hari. Harga Rp160 dan Rp390 per butir adalah batas bawah dan atas dari rentang harga yang pernah saya alami (Rp16.000 sampai Rp39.000 per tray), dan Rp230 pernah terjadi beberapa bulan sebelum harga naik ke Rp310.
| Harga per butir | Pendapatan per hari | Sisa setelah pakan per hari | Sisa setelah pakan per 30 hari |
|---|---|---|---|
| Rp160 | Rp160.000 | -Rp19.400 | -Rp582.000 |
| Rp230 | Rp230.000 | Rp50.600 | Rp1.518.000 |
| Rp310 | Rp310.000 | Rp130.600 | Rp3.918.000 |
| Rp390 | Rp390.000 | Rp210.600 | Rp6.318.000 |
Pada harga Rp160, kandang rugi bahkan sebelum biaya lain dihitung. Pada harga Rp230, sisa Rp1,5 juta per bulan akan habis kalau biaya lain sekitar Rp1,5 juta. Dengan produksi yang sama, keuntungan bisa berbeda lebih dari Rp6 juta per bulan hanya karena harga telur. Karena itu cara menjual telur sama pentingnya dengan cara beternak.
Menghitung ROI dan Balik Modal
ROI memberi tahu seberapa cepat modal kembali:
ROI per bulan = keuntungan bersih per bulan ÷ total investasi × 100%
Balik modal (bulan) = total investasi ÷ keuntungan bersih per bulan
Total investasi mencakup kandang, peralatan, bibit atau DOC, dan modal kerja (pakan sampai puyuh mulai bertelur). Sebagai pembanding bibit, DOC yang saya beli dulu Rp4.000 per ekor, sedangkan hasil tetas sendiri sekitar Rp715 per ekor (Modal Rp500 Ribu untuk 1.000 Telur Puyuh).
Keuntungan setelah pakan di kandang saya Rp3.639.000 sampai Rp4.057.500 per bulan (Rp121.300 sampai Rp135.250 per hari, harga Rp310). Contoh berikut memakai dua angka misal: biaya lain Rp1.500.000 per bulan dan total investasi Rp20.000.000. Ganti dengan angka Anda sendiri.
- Keuntungan bersih: Rp2.139.000 sampai Rp2.557.500 per bulan
- ROI: sekitar 10,7 sampai 12,8 persen per bulan
- Balik modal: sekitar 7,8 sampai 9,4 bulan
Perkiraan itu hanya berlaku kalau harga bertahan di Rp310. Pada harga Rp230, sisa setelah pakan hanya Rp1.311.000 per bulan (970 butir per hari), lebih kecil dari biaya lain Rp1.500.000, sehingga bulan itu rugi sekitar Rp189.000. Jadi menurut saya waktu balik modal sebaiknya dihitung dengan dua atau tiga skenario harga, bukan satu angka.
Faktor yang Menggeser Hasil Hitungan
- Fluktuasi harga pakan dan telur. Keduanya bergerak sendiri-sendiri. Pada Penyebab Kerugian Ternak Puyuh Petelur saya menuliskan harga pakan yang naik sementara telur turun, yang mempersempit selisih.
- Kematian dan afkir. Setiap ekor yang hilang berarti biaya pakan dan waktu yang sudah keluar. Pada kasus kanibalisme di salah satu petak saya, 1 dari 60 ekor (sekitar 1,7 persen) akhirnya diafkir.
- Umur puyuh. Produksi 84 sampai 88 persen saya catat pada Autumn umur sekitar 4 bulan. Pada puyuh yang lebih tua, angkanya wajar berbeda.
- Biaya yang tidak tercatat. Listrik, vitamin, obat, dan tenaga kerja sering terlewat. Kalau tidak dicatat, BEP tampak lebih rendah dari kenyataan.
Karena itu pencatatan harian, yaitu jumlah pakan, jumlah telur, jumlah puyuh yang mati atau diafkir, dan harga jual, menjadi dasar dari semua hitungan di atas. Detail kerugian dan risikonya ada di Penyebab Kerugian Ternak Puyuh Petelur.
Kesimpulan
Hitungan BEP dan ROI di sini memakai biaya pakan nyata dari kandang saya dan beberapa angka contoh untuk biaya lain, jadi hasilnya bukan patokan untuk kandang Anda. Yang bisa ditiru adalah cara kerjanya: hitung biaya harian, cari BEP butir dan harga, uji dengan beberapa skenario harga, baru hitung balik modal. Dengan cara itu Anda tahu seberapa jauh harga telur boleh turun sebelum kandang mulai rugi.

Komentar
Posting Komentar