Penyebab Kerugian Ternak Puyuh Petelur yang Jarang Dibahas Peternak Pemula
![]() |
| Telur puyuh hasil peternakan puyuh petelur di kandang produksi sebagai ilustrasi kondisi usaha ternak puyuh tahun 2026 |
Menjalankan usaha ternak puyuh petelur memang terlihat menjanjikan dari luar. Banyak orang melihat bahwa puyuh bisa bertelur setiap hari dan menganggap usaha ini selalu menghasilkan keuntungan. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Sebagai peternak puyuh petelur yang masih aktif hingga saat ini, saya melihat bahwa risiko kerugian dalam usaha ternak puyuh semakin besar dibandingkan beberapa tahun lalu.
Menurut saya, penyebab utama kerugian peternak puyuh saat ini adalah kenaikan harga pakan yang sangat tinggi, sementara harga telur justru mengalami penurunan yang cukup parah. Kondisi ini membuat banyak peternak berada dalam posisi yang sulit. Bahkan ada yang terpaksa mengurangi populasi ternak, menjual kandang, atau berhenti beternak karena tidak mampu menutupi biaya operasional.
Kenaikan Harga Pakan Menjadi Beban Terbesar
Dalam usaha ternak puyuh petelur, pakan merupakan biaya terbesar. Bahkan bisa mencapai lebih dari 70 persen dari total biaya produksi. Ketika harga pakan naik, otomatis biaya produksi ikut meningkat.
Saya pernah membuat formulasi pakan puyuh petelur dengan protein 19 persen. Pada saat itu harga bahan baku masih relatif terjangkau sehingga biaya produksi telur masih bisa ditekan. Namun kondisi saat ini sudah sangat berbeda.
Baca Juga: Penyebab Produksi Telur Pada Puyuh Menurun
Sebagai contoh, pakan UK pabrikan untuk puyuh petelur yang sebelumnya berada di kisaran Rp375.000 per sak isi 50 kilogram, sekarang sudah mencapai sekitar Rp425.000 per sak. Kenaikan ini tentu sangat terasa bagi peternak yang menggunakan beberapa sak pakan setiap minggu.
Hal yang sama juga terjadi pada konsentrat Top 38 Cargill. Jika sebelumnya harga satu sak 50 kilogram hanya sekitar Rp425.000, saat ini sudah berada di kisaran Rp480.000 per sak. Selisih puluhan ribu rupiah per sak mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi peternak yang membeli dalam jumlah besar setiap bulan, kenaikan ini sangat mempengaruhi keuntungan usaha.
Belum lagi bahan baku lainnya seperti jagung giling, dedak, mineral, dan bahan tambahan pakan lainnya yang juga mengalami kenaikan harga. Akibatnya biaya produksi telur puyuh terus meningkat dari waktu ke waktu.
Yang menjadi masalah adalah kenaikan harga pakan ini tidak diikuti dengan kenaikan harga telur. Justru yang terjadi adalah sebaliknya.
Harga Telur Puyuh Semakin Murah
Saya adalah peternak puyuh petelur dari Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Dari pengalaman yang saya alami sendiri, harga telur puyuh dalam beberapa bulan terakhir mengalami penurunan yang cukup drastis.
Sebelumnya harga telur puyuh masih berada di kisaran Rp30.000 hingga Rp39.000 per tray isi 100 butir. Pada harga tersebut, peternak masih memiliki peluang untuk mendapatkan keuntungan meskipun tidak terlalu besar.
Namun kondisi saat ini jauh berbeda. Per hari ini saja harga telur puyuh di daerah saya hanya sekitar Rp23.000 per tray isi 100 butir. Bahkan pada periode Maret hingga Mei 2026, harga telur puyuh sempat bertahan di kisaran Rp16.000 per tray.
Harga tersebut menurut saya sangat tidak sehat bagi peternak. Jangankan untuk mendapatkan keuntungan, biaya pakan saja sering kali tidak tertutupi. Banyak peternak yang tetap menjalankan usahanya hanya karena berharap harga akan kembali normal dalam beberapa bulan ke depan.
Ketika harga telur terlalu rendah dan biaya pakan terus naik, margin keuntungan menjadi sangat tipis bahkan bisa berubah menjadi kerugian setiap hari.
Produksi Telur Tidak Selalu Stabil
Banyak orang mengira puyuh akan bertelur terus menerus tanpa masalah. Faktanya tidak demikian.
Produksi telur sangat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kualitas pakan, cuaca, manajemen kandang, umur ternak, hingga tingkat stres pada puyuh. Ketika salah satu faktor tersebut terganggu, produksi telur bisa langsung turun.
Baca Juga: Cara memilih bibit puyuh berkualitas untuk di ternakan
Misalnya ketika cuaca terlalu panas atau terlalu dingin, konsumsi pakan puyuh dapat berubah. Akibatnya produksi telur ikut menurun. Penurunan produksi beberapa persen saja sebenarnya sudah cukup berpengaruh terhadap pendapatan peternak.
Jika jumlah telur yang dihasilkan berkurang sementara biaya pakan tetap sama, maka keuntungan akan semakin kecil.
Risiko Penyakit yang Selalu Mengintai
Faktor lain yang juga sering menyebabkan kerugian adalah penyakit.
Meskipun puyuh dikenal cukup tahan terhadap beberapa kondisi lingkungan, tetap saja ada berbagai penyakit yang dapat menyerang ternak. Ketika penyakit mulai masuk ke kandang, peternak harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengobatan, vitamin, dan perawatan.
Dalam kondisi tertentu, penyakit juga dapat menyebabkan kematian ternak. Jika populasi berkurang, maka jumlah produksi telur otomatis menurun.
Kerugian akibat penyakit tidak hanya dirasakan saat ternak sakit. Setelah sembuh pun biasanya diperlukan waktu agar produksi telur kembali normal. Artinya peternak bisa mengalami kerugian dalam jangka waktu yang cukup panjang.
Kualitas Bibit Menentukan Hasil Produksi
Tidak semua bibit puyuh memiliki kualitas yang sama. Bibit yang kurang baik sering kali menghasilkan performa produksi yang rendah.
Ada puyuh yang mulai bertelur lebih lambat, ada yang produksi telurnya tidak maksimal, dan ada juga yang lebih rentan terhadap penyakit. Jika peternak mendapatkan bibit yang kurang berkualitas, risiko kerugian menjadi lebih besar sejak awal.
Karena itu pemilihan sumber bibit menjadi salah satu faktor penting yang sering diabaikan oleh peternak pemula.
Biaya Operasional Terus Bertambah
Selain pakan, masih ada berbagai biaya lain yang harus diperhitungkan.
Biaya listrik untuk penerangan kandang, biaya perawatan peralatan, biaya transportasi, biaya tenaga kerja, serta biaya penggantian kandang yang rusak juga ikut mempengaruhi keuntungan usaha.
Kenaikan harga bahan bangunan dan peralatan peternakan dalam beberapa tahun terakhir membuat biaya pemeliharaan kandang menjadi lebih mahal dibandingkan sebelumnya.
Sering kali peternak hanya menghitung biaya pakan dan lupa memasukkan biaya operasional lainnya. Akibatnya mereka merasa masih untung padahal sebenarnya keuntungan yang diperoleh sangat kecil.
Ketergantungan Pada Tengkulak
Di beberapa daerah, termasuk yang sering saya temui di lapangan, banyak peternak masih bergantung pada pengepul atau tengkulak untuk menjual telur.
Ketika pasokan telur melimpah, pengepul biasanya menurunkan harga beli. Peternak tidak memiliki banyak pilihan karena telur puyuh termasuk produk yang harus segera dipasarkan.
Baca Juga: Lebih bagus puyuh blaster atau puyuh Auntum?
Posisi tawar peternak menjadi lemah. Akibatnya harga yang diterima sering kali jauh dari harapan.
Jika kondisi ini berlangsung lama, kerugian peternak akan semakin besar karena tidak mampu menyesuaikan harga jual dengan kenaikan biaya produksi.
Persaingan dan Kelebihan Pasokan
Faktor lain yang juga mempengaruhi harga adalah keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Ketika jumlah peternak bertambah dan produksi telur meningkat, sementara permintaan pasar tidak mengalami peningkatan yang signifikan, harga telur biasanya akan turun.
Kondisi inilah yang sering terjadi dalam usaha peternakan puyuh. Saat banyak peternak memproduksi telur dalam jumlah besar secara bersamaan, harga pasar menjadi tertekan.
Peternak yang memiliki biaya produksi tinggi biasanya menjadi pihak yang paling terdampak.
Kesimpulan
Menurut pengalaman saya sebagai peternak puyuh petelur di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, risiko kerugian usaha puyuh saat ini jauh lebih besar dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Penyebab utamanya adalah kenaikan harga pakan yang sangat tinggi, mulai dari pakan pabrikan, konsentrat, jagung giling, dedak, hingga mineral. Di sisi lain, harga telur puyuh justru mengalami penurunan tajam. Bahkan pada periode Maret sampai Mei 2026 harga telur sempat berada di kisaran Rp16.000 per tray isi 100 butir, angka yang menurut saya sangat sulit untuk menutupi biaya produksi.
Baca Juga: Cara membuat bibit puyuh sendiri bagi pemula
Selain faktor harga pakan dan harga telur, peternak juga harus menghadapi risiko produksi yang tidak stabil, penyakit ternak, kualitas bibit, biaya operasional yang terus meningkat, ketergantungan pada pengepul, serta kondisi pasar yang tidak selalu menguntungkan.
Karena itu, sebelum memulai usaha ternak puyuh petelur, calon peternak perlu memahami bahwa usaha ini tidak hanya berbicara tentang berapa banyak telur yang dihasilkan setiap hari. Yang lebih penting adalah bagaimana mengelola biaya produksi, menjaga kesehatan ternak, dan menghadapi fluktuasi harga pasar yang bisa berubah sewaktu-waktu. Tanpa perencanaan yang matang, usaha yang terlihat sederhana ini bisa berubah menjadi sumber kerugian yang cukup besar.

Gabung dalam percakapan