Langsung ke konten utama

Pinned Post

Kenapa Puyuh Bertelur Tidak Setiap Hari?

Puyuh petelur yang sudah memasuki masa produksi tidak selalu menghasilkan jumlah telur yang sama setiap hari. Ada hari ketika hampir semua betina bertelur, tetapi pada hari berikutnya jumlah telur yang terkumpul bisa berkurang. Kondisi ini perlu dibedakan antara variasi produksi yang masih wajar dan penurunan yang menunjukkan adanya masalah dalam pemeliharaan. Kesalahan yang sering terjadi saat menghadapi penurunan telur adalah langsung mengganti pakan atau menambahkan suplemen tanpa memeriksa penyebabnya. Padahal, produksi telur dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan, mulai dari umur puyuh, kecukupan nutrisi, ketersediaan air minum, pencahayaan, kondisi lingkungan, hingga kesehatan ternak. Untuk mengetahui penyebabnya, peternak perlu melihat pola produksi selama beberapa hari, bukan hanya membandingkan hasil panen hari ini dengan kemarin. Dari catatan tersebut, perubahan produksi dapat diperiksa bersama kondisi pakan, air minum, kandang, dan perilaku puyuh. ...

Penyebab Kerugian Ternak Puyuh Petelur yang Jarang Dibahas Peternak Pemula

Risiko Ternak Puyuh Petelur 2026 Akibat Harga Pakan Naik dan Harga Telur Turun
Telur puyuh hasil peternakan puyuh petelur di kandang produksi sebagai ilustrasi kondisi usaha ternak puyuh tahun 2026

Rp16.000 per tray isi 100 butir. Itu harga terendah telur puyuh yang pernah saya alami sendiri di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, bertahan dari Maret sampai Mei 2026. Sementara di saat yang sama, harga pakan pabrikan justru terus naik. Kombinasi ini yang bikin banyak peternak — termasuk yang sudah lama jalan — mulai goyah.

Kebanyakan orang yang baru mau mulai ternak puyuh cuma lihat sisi "puyuh bertelur tiap hari, pasti untung". Yang jarang dibahas justru risiko-risiko yang baru terasa setelah beberapa bulan berjalan, ketika biaya dan harga jual sama-sama bergerak ke arah yang merugikan peternak.

Harga Pakan Naik, Ini Angkanya

Pakan adalah komponen biaya terbesar dalam ternak puyuh petelur, bisa lebih dari 70% dari total biaya produksi. Jadi begitu harga pakan naik, dampaknya langsung terasa ke seluruh struktur biaya.

Saya pernah pakai formula pakan protein 19 persen waktu harga bahan baku masih relatif terjangkau. Kondisi sekarang jauh berbeda.

Baca Juga: Penyebab Produksi Telur Pada Puyuh Menurun

Pakan UK pabrikan yang dulu sekitar Rp375.000 per sak 50 kg, sekarang sudah di kisaran Rp425.000 per sak. Konsentrat Top 38 Cargill yang dulu sekitar Rp425.000 per sak 50 kg, sekarang sekitar Rp480.000. Belum lagi jagung giling, dedak, dan mineral yang juga ikut naik. Untuk peternak yang beli beberapa sak setiap minggu, kenaikan-kenaikan ini terakumulasi jadi beban yang nyata setiap bulan.

Masalahnya, kenaikan ini tidak dibarengi kenaikan harga telur. Yang terjadi justru sebaliknya.

Harga Telur Anjlok ke Titik yang Tidak Sehat

Sebelumnya, harga telur puyuh di daerah saya masih di kisaran Rp30.000 sampai Rp39.000 per tray isi 100 butir — di rentang itu peternak masih punya ruang untuk untung meski tidak besar.

Sekarang harga telur di daerah saya hanya sekitar Rp23.000 per tray. Bahkan pada Maret sampai Mei 2026, sempat bertahan di kisaran Rp16.000 per tray — angka yang bahkan sulit menutupi biaya pakan, apalagi menyisakan keuntungan.

Ketika harga jual serendah ini sementara biaya pakan terus naik, margin yang tadinya tipis bisa berubah jadi kerugian harian. Banyak peternak yang bertahan hanya karena berharap harga akan pulih dalam beberapa bulan ke depan.

Risiko yang Jarang Dihitung Pemula

Selain dua faktor besar di atas, ada beberapa risiko yang sering luput dari perhitungan peternak baru karena efeknya baru terasa belakangan, bukan di awal:

Produksi yang naik-turun. Cuaca, manajemen kandang, umur ternak, sampai tingkat stres puyuh semuanya memengaruhi produksi telur. Cuaca terlalu panas atau terlalu dingin saja bisa mengubah konsumsi pakan dan langsung menurunkan produksi. Penurunan beberapa persen terdengar kecil, tapi kalau biaya pakan tetap sama sementara telur yang dihasilkan berkurang, keuntungan yang tergerus bisa signifikan.

Baca Juga: Cara memilih bibit puyuh berkualitas untuk di ternakan

Penyakit yang datang tanpa peringatan. Begitu penyakit masuk kandang, ada biaya tambahan untuk obat, vitamin, dan perawatan ekstra. Dalam kasus yang lebih buruk, penyakit bisa menyebabkan kematian ternak sehingga populasi dan produksi ikut turun. Yang sering tidak disadari pemula: setelah puyuh sembuh pun, produksi telur butuh waktu untuk kembali normal — jadi kerugiannya tidak berhenti begitu wabah reda.

Kualitas bibit di awal. Bibit yang kurang baik bisa membuat puyuh mulai bertelur lebih lambat, produksinya tidak maksimal, atau lebih rentan sakit. Kalau sumber bibit sejak awal sudah bermasalah, risiko kerugian sudah tertanam sebelum puyuh sempat berproduksi — dan ini sering diabaikan peternak pemula yang cuma fokus ke harga bibit termurah.

Biaya operasional di luar pakan. Listrik untuk penerangan kandang, perawatan peralatan, transportasi, tenaga kerja, sampai perbaikan kandang yang rusak — semua ini ikut memotong keuntungan. Banyak peternak hanya menghitung biaya pakan dan lupa memasukkan biaya-biaya ini, sehingga merasa masih untung padahal keuntungan riilnya jauh lebih kecil dari yang dikira.

Terjebak di Tangan Tengkulak

Di banyak daerah, termasuk yang sering saya temui di lapangan, peternak masih bergantung pada pengepul untuk menjual telur. Karena telur puyuh harus segera dipasarkan, begitu pasokan melimpah, pengepul dengan mudah menurunkan harga beli — dan peternak tidak punya banyak pilihan selain menerima.

Baca Juga: Lebih bagus puyuh blaster atau puyuh Auntum?

Posisi tawar yang lemah ini yang bikin harga jual peternak jarang bisa menyesuaikan diri dengan kenaikan biaya produksi, meski biayanya sudah jelas-jelas naik.

Kelebihan Pasokan Menekan Harga

Faktor lain yang memengaruhi harga adalah keseimbangan pasokan dan permintaan. Ketika jumlah peternak bertambah dan produksi telur ikut meningkat, sementara permintaan pasar tidak tumbuh secepat itu, harga telur biasanya tertekan turun.

Kondisi ini yang sering terjadi di usaha puyuh — saat banyak peternak memproduksi telur dalam jumlah besar secara bersamaan, harga pasar ikut jatuh. Peternak dengan biaya produksi tinggi biasanya yang paling terpukul karena marginnya paling tipis sejak awal.

Kesimpulan

Dari pengalaman saya di Sijunjung, Sumatera Barat, risiko kerugian usaha puyuh sekarang jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu. Penyebab utamanya jelas: harga pakan naik di semua lini (pabrikan, konsentrat, jagung, dedak, mineral), sementara harga telur justru anjlok sampai sempat Rp16.000 per tray pada Maret–Mei 2026.

Baca Juga: Cara membuat bibit puyuh sendiri bagi pemula

Tapi harga pakan dan harga telur cuma dua bagian dari gambaran besarnya. Produksi yang naik-turun, risiko penyakit, kualitas bibit sejak awal, biaya operasional yang sering tidak dihitung, ketergantungan pada tengkulak, dan tekanan dari kelebihan pasokan — semuanya bergabung jadi risiko yang baru benar-benar terasa setelah beberapa bulan berjalan, bukan di hari pertama membeli bibit.

Kalau Anda baru berencana masuk ke usaha ini, jangan cuma menghitung berapa telur yang bisa dipanen tiap hari. Hitung juga seberapa siap Anda menghadapi biaya pakan yang naik, harga jual yang bisa jatuh sewaktu-waktu, dan risiko-risiko di atas yang jarang dibahas sampai Anda benar-benar mengalaminya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Memilih Bibit Puyuh Petelur Unggul Agar Cepat Bertelur

Tips Memilih Bibit Puyuh Petelur Unggul Agar Cepat Bertelur Saya sering ditanya peternak pemula: kenapa puyuh saya sudah umur 6 minggu tapi belum juga bertelur, padahal tetangga yang beli DOC bareng-bareng puyuhnya sudah produksi duluan? Setelah beberapa kali gonta-ganti sumber bibit, saya sadar akar masalahnya hampir selalu sama: bibit awal yang dipilih asal-asalan. Kandang bagus dan pakan mahal tidak banyak membantu kalau dari awal DOC yang dibeli memang bukan turunan petelur unggul. Ringkasnya: saya memilih anakan umur 7–10 hari dengan bulu rapi, mata cerah, ukuran seragam, dan gerak aktif, lalu menanyakan riwayat indukannya ke penjual. Soal harga, saya tidak mengejar yang paling murah. (Di artikel ini, "DOC" saya pakai untuk anakan puyuh umur 7–10 hari.) Berikut cara saya menyeleksi bibit sebelum dibawa pulang ke kandang, berdasarkan apa yang sudah saya praktikkan sendiri. Ciri Fisik Bibit yang Saya Periksa Sebelum Beli Saat datang ke peternak bibit, saya tidak...

Puyuh Blaster VS Puyuh Auntum, Mana Yang Bagus Untuk Dikembangkan

Gambar bibit puyuh blaster dan auntum usia 37 hari 1.000 ekor puyuh blaster lokal dan 1.000 ekor puyuh auntum, saya pelihara berdampingan di kandang, pakan, dan perawatan yang sama persis. Bukan perbandingan di atas kertas, tapi hasil pengamatan langsung selama menjalankan keduanya bersamaan. Perbedaannya cukup jelas terlihat, tapi tidak sesederhana "yang satu lebih bagus dari yang lain". Ada faktor usia, cara jual telur di daerah saya, sampai daya tahan terhadap cuaca yang ikut menentukan mana yang lebih cocok. Sistem Pemeliharaan yang Saya Samakan untuk Keduanya Supaya perbandingannya adil, kandang untuk kedua jenis puyuh ini saya buat seukuran dan semodel, masing-masing kamar diisi sekitar 40 ekor. Pakannya juga dari campuran yang sama, kadar protein sekitar 18,6%. Untuk takaran pakan, saya pakai asumsi 22 gram per ekor per hari. Artinya kebutuhan per kamar (40 ekor) sebenarnya sekitar 880 gram. Tapi dalam praktiknya saya selalu kasih sekitar 1 kilogram per kamar...

Modal Rp500 Ribu untuk 1.000 Telur Puyuh, Berapa yang Berhasil Menetas?

Mesin tetas telur puyuh rakitan sendiri kapasitas 1000 butir Ringkasnya: saya menetaskan 1.000 butir telur fertil puyuh GPS (Rp500.000) di mesin tetas rakitan sendiri: box triplek 140 × 60 × 40 cm, termostat digital Rp36.000, dan 9 bohlam. Suhu dijaga 37,5–38,5°C dengan kelembapan 50–60%, telur dibalik manual 3 kali sehari dari hari ke-4 sampai ke-15. Hasilnya 750 ekor menetas (75%), dengan biaya sekitar Rp715 per ekor dibanding harga DOC Rp4.000 per ekor. Rp4.000 per ekor. Itu harga DOC puyuh umur 10 hari yang biasa saya beli di daerah saya waktu masih mengandalkan bibit dari luar. Kedengarannya murah, tapi begitu saya hitung untuk menambah populasi dalam jumlah ratusan ekor, angkanya langsung terasa berat di kantong. Dari situ saya mulai cari cara supaya bibit puyuh bisa lebih murah. Waktu itu saya belum kenal istilah parent stock atau grand parent stock, apalagi kepikiran bikin DOC sendiri secara rutin. Yang ada di kepala saya cuma satu: gimana caranya dapat bibit tanpa harus...