Keuntungan Ternak Puyuh Petelur 2.000 Ekor, Produksi 1.600 Butir Telur per Hari dan Laba Rp3,8 Juta per Bulan

Keuntungan ternak puyuh petelur 2.000 ekor lengkap dengan analisis pakan, produksi 1.600 telur per hari, dan perhitungan laba usaha.
Berapa meuntungan puyuh 2 ribu ekor?
Telur puyuh 2 hari mendapatkan 3000 butir telur

Rp126.700. Itu keuntungan kotor harian yang saya dapat dari 2.000 ekor puyuh petelur yang saya pelihara di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat — setelah dipotong biaya pakan, belum termasuk listrik, obat, dan biaya operasional lain. Angka ini bukan estimasi di atas kertas, tapi hasil hitung-hitungan dari catatan produksi dan pengeluaran saya sendiri.

Di artikel ini saya mau bongkar detail perhitungannya, termasuk satu kesalahan yang pernah saya lakukan waktu coba menghemat biaya pakan — dan malah bikin produksi telur anjlok drastis.

Produksi dan Pendapatan Harian dari 2.000 Ekor

Dengan populasi 2.000 ekor, kondisi kandang yang terjaga, dan pakan yang stabil, setiap pagi saya mengumpulkan telur sekitar 1.500 sampai 1.600 butir. Kalau dirata-rata, produksi harian saya ada di angka 1.600 butir.

Baca Juga: Harga Telur Puyuh di Sumbar Pada Periode 2026

Pada 3 Juni 2026, harga telur puyuh di daerah saya berada di kisaran Rp26.000 per tray (100 butir). Dari 1.600 butir per hari, itu setara 16 tray, jadi pendapatan hariannya:

16 tray × Rp26.000 = Rp416.000 per hari

Itu angka omzet kotor, sebelum dipotong biaya pakan.

Konsumsi Pakan dan Formula yang Saya Pakai

Kosentrat Puyuh Petelur
Stok pakan puyuh petelur untuk 5 hari

Talang pakan saya tidak pernah saya batasi — puyuh bebas makan sepuasnya. Seekor puyuh dewasa rata-rata makan sekitar 25 gram per hari, jadi untuk 2.000 ekor:

2.000 ekor × 25 gram = 50.000 gram, setara 50 kg pakan per hari

Formula campuran pakan yang saya pakai selama ini:

Bahan Pakan Jumlah
Dedak halus 120 kg
Konsentrat petelur protein 38% 50 kg
Pakan pabrikan UK 1126 protein 20% 50 kg
Jagung giling 25 kg
Mineral 1 kg

Total: 120 + 50 + 50 + 25 + 1 = 246 kg

Formula ini sudah saya pakai cukup lama dan hasilnya konsisten menjaga produksi telur.

Baca Juga: Tips Memilih Bibit Puyuh Untuk Diternakan

Kandungan Protein Campuran Pakan

Bahan Pakan Jumlah (kg) Protein (%) Total Protein (kg)
Dedak halus 120 13% 15,60
Konsentrat petelur 50 38% 19,00
UK 1126 50 20% 10,00
Jagung 25 10% 2,50
Mineral 1 0% 0
Total 246 - 47,10

Dedak padi umumnya punya protein 12–15%, jagung sekitar 10–11%. Dari total protein 47,10 kg dalam 246 kg campuran, kadar proteinnya:

47,10 ÷ 246 × 100% = 19,15%

Kadar protein sekitar 19% ini, menurut pengalaman saya, sudah cukup untuk menjaga produksi telur tetap tinggi — dengan syarat energi pakannya juga tercukupi. Energi dari formula ini sebenarnya agak minim karena jagung hanya 25 kg, tapi pakan pabrikan UK 1126 sudah mengandung jagung di dalamnya, jadi kekurangan energi itu ikut tertutupi.

Menghitung Harga Pokok Pakan

Dedak Halus

120 kg × Rp2.800 = Rp336.000

Konsentrat Petelur

50 kg × Rp9.600 = Rp480.000

UK 1126

50 kg × Rp8.100 = Rp405.000

Jagung

25 kg × Rp7.500 = Rp187.500

Mineral

1 kg × Rp15.000 = Rp15.000

Total Biaya Campuran

Rp336.000 + Rp480.000 + Rp405.000 + Rp187.500 + Rp15.000 = Rp1.423.500

Karena total campuran menghasilkan 246 kg pakan, harga per kilogramnya:

Rp1.423.500 ÷ 246 kg = Rp5.786 per kg

Biaya Pakan dan Keuntungan Harian

Konsumsi harian 50 kg, jadi biaya pakan per hari:

50 kg × Rp5.786 = Rp289.300 per hari

Dari pendapatan telur Rp416.000 per hari dikurangi biaya pakan Rp289.300, keuntungan kotornya:

Rp416.000 - Rp289.300 = Rp126.700 per hari

Dikalikan 30 hari:

Rp126.700 × 30 = Rp3.801.000 per bulan

Perhitungan ini belum memasukkan listrik, penyusutan kandang, obat-obatan, dan tenaga kerja. Tapi setidaknya ini gambaran nyata bahwa usaha puyuh 2.000 ekor masih bisa untung selama produksi telur tetap tinggi.

Baca Juga: Kenali Penyebab Produksi Telur Puyuh Menurun

Perhitungan di atas pakai harga Rp26.000 per tray. Waktu harga telur naik seperti Maret–April 2026 lalu, sampai Rp39.000 per tray, tinggal dikalikan ulang dengan angka itu — dan hasilnya jauh lebih menjanjikan.

Kesalahan Saya: Coba Hemat Pakan, Produksi Malah Anjlok

Bulan Mei 2026, saya sempat tergoda cari formula pakan yang lebih murah. Waktu itu pemikiran saya sederhana: selama kadar protein tetap terpenuhi, produksi telur harusnya tetap bagus.

Kenyataannya tidak begitu. Kadar protein di formula baru itu memang masih terlihat cukup, tapi kandungan energinya turun. Puyuh jadi tidak punya cukup energi untuk mempertahankan produksi telur.

Dampaknya langsung terasa dalam waktu singkat. Produksi yang biasanya 1.500–1.600 butir per hari anjlok sampai hanya sekitar 400 butir per hari dari 2.000 ekor puyuh. Bukan cuma jumlahnya yang turun — ukuran telur yang dihasilkan juga jadi jauh lebih kecil dari biasanya.

Dari situ saya baru benar-benar sadar: dalam pakan puyuh petelur, protein saja tidak cukup. Energi pakan punya peran sebesar itu terhadap produksi telur.

Kenapa Saya Tidak Lagi Sering Ganti Formula Pakan

Setelah kejadian Mei 2026 itu, saya pegang prinsip untuk tidak gampang gonta-ganti formula pakan hanya demi menekan biaya. Penghematan yang didapat dari pakan lebih murah sering kali jauh lebih kecil dibanding kerugian akibat produksi telur yang anjlok.

Begitu sudah ketemu formula yang terbukti menghasilkan produksi stabil, saya pertahankan formula itu. Kalau pun mau menyesuaikan, saya lakukan bertahap sambil tetap memperhatikan keseimbangan protein, energi, vitamin, dan mineralnya — bukan asal ganti karena tergiur harga lebih murah.

Baca Juga: Bisakah Membuat Indukan Puyuh Final Stock Sendiri? Bisa, Simak disini

Penutup

Dari pengalaman memelihara 2.000 ekor puyuh petelur di Sijunjung, Sumatera Barat, produksi 1.600 butir telur per hari bisa menghasilkan omzet sekitar Rp416.000 per hari, dengan biaya pakan sekitar Rp289.300 per hari — jadi keuntungan kotor sekitar Rp126.700 per hari, atau kurang lebih Rp3,8 juta per bulan di luar biaya operasional lain.

Tapi angka itu hanya tercapai kalau formula pakannya seimbang, bukan cuma soal protein tinggi. Kesalahan saya di Mei 2026 jadi bukti nyata: pakan murah tanpa energi yang cukup bisa menjatuhkan produksi telur sampai seperempatnya hanya dalam waktu singkat. Kalau sudah dapat formula yang terbukti bekerja, konsistensi jauh lebih berharga daripada iming-iming hemat sedikit di biaya pakan.