Harga Telur Puyuh Sumbar 2026 - Sempat Tembus Rp39.000 per Tray, Lalu Anjlok Hingga Rp16.000
![]() |
| Telur puyuh fresh dari kandang sendiri |
Tahun 2026 menjadi salah satu tahun yang cukup menguras pikiran bagi peternak puyuh petelur di Sumatera Barat, termasuk saya sendiri yang beternak di Kabupaten Sijunjung.
Selama beternak puyuh petelur sejak tahun 2018, saya sudah beberapa kali melihat harga telur puyuh naik dan turun. Namun apa yang terjadi pada tahun 2026 ini bisa dibilang cukup ekstrem. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, harga telur puyuh sempat melonjak hingga Rp39.000 per tray, lalu anjlok menjadi hanya Rp16.000 per tray setelah Lebaran.
Banyak peternak yang awalnya optimis akhirnya harus menghadapi kenyataan pahit ketika harga telur terus turun sementara biaya pakan tetap tinggi.
Melalui artikel ini saya ingin berbagi pengalaman pribadi sebagai peternak puyuh petelur di Sijunjung, Sumatera Barat, tentang bagaimana kondisi pasar telur puyuh sepanjang tahun 2026 dan pelajaran yang saya dapatkan dari situasi tersebut.
Perkembangan Harga Telur Puyuh Awal Tahun 2026
Memasuki awal tahun 2026, harga telur puyuh sebenarnya masih berada pada kondisi yang cukup normal.
Berikut kisaran harga yang saya terima dari pengepul dan pedagang selama beberapa bulan pertama tahun 2026:
| Bulan | Harga Telur Puyuh per Tray (100 Butir) |
|---|---|
| Januari 2026 | Rp29.000 – Rp30.000 |
| Februari 2026 | Rp28.000 – Rp31.000 |
| Maret 2026 | Rp28.000 – Rp39.000 |
| April 2026 | Rp16.000 – Rp18.000 |
| Mei 2026 | Rp22.000 – Rp25.000 |
Dari data sederhana tersebut terlihat bahwa lonjakan terbesar terjadi pada bulan Maret 2026 yang bertepatan dengan bulan puasa.
Pada saat itu permintaan telur puyuh meningkat cukup tajam. Harga yang biasanya berada di kisaran Rp28.000 hingga Rp31.000 per tray perlahan naik hingga menyentuh Rp39.000 per tray.
Bagi peternak, tentu saja kondisi ini terlihat sangat menguntungkan.
Banyak Peternak Kembali Mengisi Kandang
Ketika harga telur puyuh mencapai Rp39.000 per tray, suasana di kalangan peternak berubah cukup drastis.
Banyak peternak yang sebelumnya sudah berhenti mulai kembali melirik usaha puyuh petelur.
Di daerah saya sendiri, ada beberapa orang yang sebelumnya sudah mengosongkan kandang karena usaha puyuh dianggap kurang menguntungkan. Namun ketika harga telur melonjak, mereka kembali membeli bibit puyuh untuk mengisi kandang yang sudah lama kosong.
Selain itu, ada juga peternak yang sebelumnya memelihara sekitar 2.000 ekor puyuh kemudian menambah populasi menjadi 4.000 hingga 5.000 ekor.
Saat itu banyak yang beranggapan bahwa harga telur puyuh akan bertahan tinggi dalam waktu lama.
Saya sendiri melihat semangat para peternak memang sedang tinggi-tingginya. Hampir setiap kali bertemu sesama peternak, topik yang dibahas selalu seputar harga telur yang terus naik.
Namun ternyata kondisi tersebut tidak berlangsung lama.
Saya Memilih Tidak Menambah Populasi
![]() |
| Puyuh petelur populasi 2000 ekor |
Saat harga telur puyuh sedang tinggi, saya sebenarnya juga tergoda untuk menambah populasi.
Saat itu saya memiliki sekitar 2.500 ekor puyuh petelur yang sedang aktif produksi.
Kalau mengikuti arus, mungkin saya juga bisa saja menambah jumlah ternak seperti peternak lainnya. Namun setelah mempertimbangkan berbagai hal, saya memutuskan untuk tidak menambah populasi.
Alasan utamanya sederhana. Saya belum yakin kenaikan harga tersebut akan bertahan lama.
Daripada menambah jumlah puyuh, saya lebih memilih meningkatkan perawatan terhadap puyuh yang sudah ada.
Saya berusaha menjaga kesehatan ternak, memperhatikan kualitas pakan, kebersihan kandang, serta memastikan kebutuhan minum selalu terpenuhi.
Hasilnya cukup baik. Produksi telur bisa bertahan pada kisaran 80 hingga 85 persen dari total populasi.
Menurut saya, meningkatkan produktivitas sering kali lebih aman dibanding menambah populasi secara besar-besaran ketika harga pasar sedang tinggi.
Setelah Lebaran Harga Langsung Jatuh
Kondisi yang tidak diduga banyak peternak akhirnya benar-benar terjadi.
Tidak lama setelah Hari Raya Idul Fitri 2026, harga telur puyuh mulai turun dengan sangat cepat.
Bahkan pada bulan April 2026 harga telur puyuh hanya berada di kisaran Rp16.000 hingga Rp18.000 per tray.
Selama saya beternak puyuh sejak tahun 2018, harga tersebut merupakan harga terendah yang pernah saya alami.
Pada titik itu, banyak peternak mulai panik.
Pendapatan dari hasil penjualan telur sudah tidak lagi sebanding dengan biaya pakan yang harus dikeluarkan setiap hari.
Padahal puyuh tetap harus makan, baik harga telur naik maupun turun.
Dampak Harga Murah Terhadap Peternak
Ketika harga telur puyuh turun drastis, dampaknya langsung terasa.
Peternak yang baru membeli bibit beberapa bulan sebelumnya mulai kesulitan menghitung biaya produksi.
Ada yang baru saja mengisi kandang kembali setelah lama kosong. Ada juga yang baru menambah populasi hingga ribuan ekor.
Namun saat harga telur berada pada kisaran Rp16.000 hingga Rp18.000 per tray, keuntungan yang diharapkan tidak kunjung datang.
Bahkan beberapa peternak mengaku hanya bekerja untuk membeli pakan.
Akibatnya banyak yang memilih melakukan afkir lebih cepat.
Saya melihat sendiri ada puyuh yang baru berumur sekitar 3 bulan sudah dijual atau diafkir karena pemiliknya tidak sanggup menanggung biaya pakan yang terus berjalan.
Dari Lima Peternak Kini Tinggal Dua
Di kampung saya di Kabupaten Sijunjung, jumlah peternak puyuh petelur sebenarnya tidak terlalu banyak.
Pada awal tahun 2026 ada sekitar lima peternak yang aktif, termasuk saya.
Namun setelah harga telur mengalami penurunan yang cukup lama, satu per satu mulai berhenti.
Hingga saya menulis artikel ini pada tanggal 31 Mei 2026, hanya tersisa dua peternak yang masih bertahan, termasuk saya sendiri.
Kondisi ini menunjukkan bahwa usaha puyuh petelur memang tidak selalu berjalan mulus.
Ketika harga sedang bagus, banyak orang tertarik masuk. Namun ketika harga turun, tidak semua mampu bertahan.
Bertahan Dengan Pakan Adukan Sendiri
![]() |
| Pemberian pakan mandiri pada puyuh petelur |
Salah satu alasan mengapa saya masih bisa bertahan sampai sekarang adalah karena menggunakan pakan adukan sendiri.
Pada artikel sebelumnya saya pernah membahas tentang penggunaan pakan pabrikan yang dapat membantu menjaga masa produksi puyuh lebih lama.
Namun dalam kondisi harga telur yang murah seperti sekarang, penggunaan pakan pabrikan menjadi cukup berat.
Harga pakan pabrikan yang biasa saya gunakan berada di kisaran Rp8.100 per kilogram.
Jika dihitung dengan harga telur puyuh saat ini yang hanya sekitar Rp22.000 hingga Rp25.000 per tray, margin keuntungan menjadi sangat tipis.
Bahkan dalam kondisi tertentu, biaya pakan saja sulit kembali.
Karena itulah saya beralih menggunakan pakan adukan sendiri dengan biaya sekitar Rp5.400 per kilogram.
Memang ada beberapa perbedaan dibanding pakan pabrikan, namun dari sisi pengeluaran biaya, pakan adukan jauh lebih membantu dalam kondisi pasar yang sedang lesu.
Dengan selisih biaya pakan yang cukup besar, setidaknya usaha masih bisa berjalan sambil menunggu harga kembali membaik.
Apakah Kenaikan Harga Bulan Puasa Hanya Sesaat?
Sampai sekarang saya masih sering memikirkan pertanyaan ini.
Apakah kenaikan harga hingga Rp39.000 per tray pada bulan puasa 2026 memang murni karena tingginya permintaan pasar? Ataukah hanya momen sementara yang membuat banyak peternak terlalu optimis?
Saya sendiri tidak memiliki jawaban pasti.
Namun dari pengalaman yang terjadi, saya belajar bahwa keputusan menambah populasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Harga tinggi yang terjadi dalam beberapa minggu belum tentu bertahan dalam beberapa bulan.
Karena itu saya lebih memilih menjaga stabilitas usaha dibanding mengejar pertumbuhan yang terlalu cepat.
Pelajaran yang Saya Dapatkan Sebagai Peternak Puyuh
Ada satu pelajaran penting yang saya dapatkan dari kejadian tahun 2026 ini.
Dalam usaha peternakan puyuh, harga pasar memang penting. Tetapi kemampuan mengendalikan biaya produksi jauh lebih penting.
Ketika harga telur tinggi, hampir semua peternak bisa memperoleh keuntungan.
Namun ketika harga telur turun drastis, hanya peternak yang mampu mengendalikan biaya produksi yang biasanya bisa bertahan.
Bagi saya pribadi, keputusan untuk fokus pada perawatan ternak dan efisiensi pakan jauh lebih membantu dibanding menambah populasi secara besar-besaran saat harga sedang naik.
Meskipun saat ini produksi telur saya hanya berada di kisaran 80 persen dan harga telur masih relatif murah, setidaknya usaha masih tetap berjalan.
Semoga harga telur puyuh di Sumatera Barat kembali membaik dalam beberapa bulan ke depan sehingga para peternak yang masih bertahan bisa kembali menikmati hasil usaha yang lebih layak.



Gabung dalam percakapan