![]() |
| Telur puyuh fresh dari kandang sendiri |
Ringkasnya: di Kabupaten Sijunjung, harga telur puyuh 2026 naik dari Rp28.000–31.000 per tray (100 butir) di Januari–Februari ke puncak Rp39.000 di Maret (bulan puasa), lalu jatuh ke Rp16.000–18.000 di April, level terendah sejak saya beternak tahun 2018. Saya memilih tidak menambah populasi saat harga tinggi, lalu bertahan dengan pakan adukan sendiri (±Rp5.400 per kg, dibanding pakan pabrikan ±Rp8.100 per kg). Dari lima peternak di kampung saya, per 31 Mei 2026 tersisa dua.
Saya beternak puyuh petelur di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, sejak 2018. Dalam delapan tahun itu harga telur puyuh sudah beberapa kali naik-turun, tapi siklus tahun 2026 ini yang paling tajam: dalam hitungan minggu harga naik sampai Rp39.000/tray, lalu jatuh ke Rp16.000/tray begitu Lebaran lewat.
Artikel ini catatan dari kandang sendiri, lengkap dengan alasan kenapa saya pilih tidak ikut menambah populasi waktu harga sedang tinggi, dan cara sederhana yang saya pakai untuk memutuskan kapan harus pindah strategi pakan ketika harga jatuh.
Pergerakan Harga Telur Puyuh di Sijunjung Sepanjang 2026
Harga ini saya catat langsung dari pengepul dan pedagang tiap bulan:
| Bulan | Harga Telur Puyuh per Tray (100 Butir) |
|---|---|
| Januari 2026 | Rp29.000 – Rp30.000 |
| Februari 2026 | Rp28.000 – Rp31.000 |
| Maret 2026 | Rp28.000 – Rp39.000 |
| April 2026 | Rp16.000 – Rp18.000 |
| Mei 2026 | Rp22.000 – Rp25.000 |
Lonjakan tertinggi jatuh di Maret, pas bulan puasa: permintaan telur puyuh naik untuk kebutuhan takjil dan masakan buka puasa, harga merangkak dari Rp28.000 sampai Rp39.000/tray. Begitu Lebaran lewat, harga langsung jatuh ke Rp16.000–18.000 sepanjang April, level terendah yang pernah saya alami sejak 2018. Mei mulai pulih ke Rp22.000–25.000, tapi masih di bawah level normal Januari–Februari.
Ramai-Ramai Isi Kandang Saat Harga Tinggi, Lalu Menyesal
Begitu harga tembus Rp39.000/tray, beberapa peternak di sekitar saya yang sebelumnya sudah kosongkan kandang langsung beli bibit lagi. Ada juga yang tadinya pelihara 2.000 ekor, langsung tambah jadi 4.000–5.000 ekor dalam waktu singkat.
Baca Juga: Modal Rp500 Ribu untuk 1.000 Telur Puyuh, Berapa yang Menetas?
Masalahnya, keputusan tambah populasi itu diambil berdasarkan harga tiga minggu terakhir, bukan tren beberapa bulan. Begitu harga jatuh di April, populasi yang baru ditambah itu jadi beban: bibit baru butuh 2–3 bulan sebelum mulai bertelur produktif, sementara pakan sudah harus dibayar setiap hari sejak hari pertama.
Kenapa Saya Tidak Ikut Menambah Populasi
![]() |
| Puyuh petelur di kandang saya |
Saat itu saya punya sekitar 2.500 ekor puyuh yang sedang aktif produksi, dan sempat tergoda ikut menambah seperti yang lain. Yang menahan saya satu hal: lonjakan sampai Rp39.000 itu persis jatuh di bulan puasa, jadi lebih mungkin efek musiman ketimbang tren jangka panjang. Kalau saya tambah populasi berdasarkan harga tiga minggu, lalu harga jatuh seperti dugaan saya, saya akan menanggung biaya pakan populasi besar tepat saat harga sedang jatuh, situasi yang justru saya lihat sendiri menimpa peternak lain.
Pilihan saya sebagai gantinya: fokus rawat populasi yang sudah ada, yaitu jaga kesehatan, kualitas pakan, kebersihan kandang, dan kecukupan air minum. Hasilnya produksi bertahan di kisaran 80–85% dari total populasi. Ini bukan strategi yang memberi hasil sebesar menambah populasi saat harga tinggi, tapi risikonya jauh lebih kecil kalau harga ternyata cepat berbalik.
Setelah Lebaran, Harga Jatuh dan Peternak Baru Paling Terpukul
Tidak lama setelah Idul Fitri, harga turun cepat ke Rp16.000–18.000/tray di bulan April. Puyuh tetap makan setiap hari tanpa peduli harga telur naik atau turun, jadi begitu pendapatan dari telur sudah tidak sebanding dengan biaya pakan harian, masalahnya langsung terasa, dan paling parah menimpa peternak yang baru saja menambah populasi beberapa bulan sebelumnya.
Baca Juga: Puyuh Blaster VS Autumn, Mana yang Menguntungkan?
Sebagian peternak yang saya kenal mengaku hasil jual telur cuma cukup untuk beli pakan hari itu, tanpa sisa. Saya sendiri lihat langsung ada puyuh yang baru umur sekitar 3 bulan, baru masuk masa produktif, sudah diafkir karena pemiliknya sudah tidak sanggup menutup biaya pakan yang berjalan terus.
Dari Lima Peternak di Kampung, Sekarang Tinggal Dua
Di kampung saya sendiri jumlah peternak puyuh petelur tidak banyak. Awal 2026 ada lima orang aktif, termasuk saya. Begitu harga anjlok berkepanjangan, satu per satu berhenti. Sampai tulisan ini dibuat, 31 Mei 2026, tinggal dua peternak yang masih jalan, dan saya salah satunya.
Cara Saya Bertahan: Pindah ke Pakan Adukan Sendiri
![]() |
| Pemberian pakan mandiri pada puyuh petelur |
Salah satu alasan saya masih bisa jalan sampai sekarang adalah pindah ke pakan adukan sendiri. Di artikel Apakah Pakan Pabrikan Membuat Puyuh Lebih Lama Bertelur? saya sudah bahas kenapa pakan pabrikan lebih baik untuk memperpanjang masa produksi puyuh dalam kondisi harga normal. Itu tetap berlaku. Tapi begitu harga telur anjlok separah kemarin, pakan pabrikan jadi berat di kas harian.
Pakan pabrikan yang biasa saya pakai ±Rp8.100/kg. Dengan harga telur cuma Rp22.000–25.000/tray di Mei, margin keuntungan jadi sangat tipis. Di titik tertentu, biaya pakan saja susah balik modal (hitungannya ada di bagian bawah). Saya pindah ke pakan adukan sendiri dengan biaya ±Rp5.400/kg, selisih ±Rp2.700/kg yang cukup untuk menjaga usaha tetap jalan sambil menunggu harga membaik.
Cara Sederhana Menghitung Kapan Harus Pindah Pakan
Dari pengalaman ini saya pakai cara hitung kasar yang bisa dicoba peternak lain dengan angka kandang masing-masing, bukan patokan baku:
- Hitung biaya pakan per butir telur. Bagi total biaya pakan harian dengan jumlah telur yang dihasilkan hari itu. Kalau biaya per butir sudah mendekati atau melebihi harga jual telur per butir (harga tray dibagi 100), berarti margin sudah tergerus habis.
- Bandingkan dengan harga pakan alternatif. Cek selisih harga per kilogram antara pakan yang sedang dipakai dengan opsi lain yang tersedia di daerah masing-masing. Selisih itu yang menentukan seberapa besar ruang napas yang didapat kalau pindah pakan.
- Pertimbangkan jangka waktu. Kalau harga telur diperkirakan cuma turun sementara (misal karena musiman seperti pasca-Lebaran), pindah pakan sementara masuk akal. Kalau penurunan terlihat berkepanjangan, evaluasi populasi juga perlu dipikirkan, bukan cuma pakan.
Contoh Hitungannya dengan Angka Kandang Saya (Mei 2026)
Dengan patokan pakan 25 gram per ekor per hari dan produksi 80%, biaya pakan per butir telur saya hitung begini (biaya pakan per ekor per hari dibagi 0,8 butir per ekor per hari):
| Pakan pabrikan | Pakan adukan sendiri | |
|---|---|---|
| Harga pakan | Rp8.100/kg | Rp5.400/kg |
| Pakan per ekor per hari (25 g) | Rp202,5 | Rp135 |
| Biaya pakan per butir telur | ±Rp253 | ±Rp169 |
| Harga jual telur Mei (Rp22.000–25.000 per 100 butir) | Rp220–250 per butir | Rp220–250 per butir |
| Sisa per butir setelah pakan | minus Rp33 sampai Rp3 | plus Rp51 sampai Rp81 |
Jadi di Mei, pakan pabrikan sudah tidak menyisakan margin sama sekali, sedangkan pakan adukan masih menyisakan Rp51–81 per butir. Di April (Rp16.000–18.000 per tray, atau Rp160–180 per butir), biaya pakan adukan pun hampir sama dengan harga jual. Jadi pindah pakan hanya memberi ruang napas, bukan jaminan untung. Angka ini baru biaya pakan, belum termasuk listrik, air, vitamin, dan tenaga kerja.
Baca Juga: Keuntungan Laba Bersih Ternak 2000 Ekor Puyuh
Saya sendiri belum tahu pasti apakah lonjakan bulan puasa itu murni karena permintaan pasar atau cuma euforia sesaat. Tapi dari kejadian ini saya pegang satu prinsip: harga tinggi yang baru bertahan beberapa minggu bukan alasan cukup kuat untuk menambah populasi besar-besaran, karena begitu harga turun, biaya pakan untuk populasi yang lebih besar tetap harus dibayar setiap hari, tidak peduli apakah keputusan menambahnya tepat atau tidak.
Kesimpulan
Dari siklus harga di Sijunjung sepanjang 2026, pelajaran paling penting buat saya bukan soal harga jual, tapi seberapa jauh biaya produksi bisa dikendalikan. Waktu harga tinggi, hampir semua peternak untung. Waktu harga jatuh, yang bertahan cuma yang biaya produksinya sudah dihitung dengan cermat, bukan yang populasinya paling besar.
Sampai tulisan ini dibuat (31 Mei 2026), produksi saya masih di kisaran 80% dan harga telur belum kembali normal, tapi usaha masih jalan dengan pakan adukan sendiri. Semoga harga di Sumbar segera membaik, supaya peternak yang masih bertahan bisa menikmati hasil yang lebih layak lagi.
Update Agustus 2026: dalam hitungan kandang saya sekarang, harga telur yang saya pakai sudah Rp310 per butir (setara Rp31.000 per tray). Rinciannya ada di artikel Hasil Ternak 1.150 Ekor Puyuh Selama 30 Hari.



Komentar
Posting Komentar