Penyebab Produksi Telur Puyuh Turun Akibat Salah Adukan Pakan
![]() |
| Foto puyuh petelur yang saya pelihara dengan sistem pakan adukan sendiri. |
Sekarang puyuh yang saya pelihara ada sekitar 2000 ekor, rata-rata sudah berumur 1 tahunan. Karena harga pakan pabrikan terus naik, saya coba racik pakan sendiri pakai bahan yang gampang dicari di daerah saya, dengan harapan biaya turun tapi keuntungan tetap jalan. Komposisi yang saya pakai waktu itu:
- Dedak 100 kg
- Konsentrat protein 36% sebanyak 25 kg
- Tepung ikan dengan kandungan protein 30%, 25 kg
- Jagung 20 kg
- Mineral 1 kg
- Pakan puyuh petelur pabrikan protein 20% sebanyak 50 kg
Awalnya saya cukup yakin adukan ini bagus karena ada tepung ikan dan konsentrat, jadi protein pasti tinggi. Tapi setelah dijalankan beberapa minggu, produksi telur malah terus turun. Dari 2000 ekor, telur yang saya dapat cuma sekitar 1200 butir per hari, kalau dihitung, itu setara 60 persen saja, padahal sebelumnya produksinya lebih tinggi dari itu.
Kesalahan Saya: Terlalu Fokus ke Protein, Lupa Energi
Waktu itu logika saya sederhana, makin tinggi protein, makin banyak telur. Makanya konsentrat dan tepung ikan saya tambahkan cukup banyak. Setelah saya tanya ke beberapa peternak senior dan coba hitung ulang kandungan nutrisinya, ternyata masalah utamanya bukan di protein, tapi di energi pakan yang terlalu rendah. Jagung yang saya pakai cuma 20 kg, sementara dedak sampai 100 kg dalam total adukan lebih dari 200 kg. Perbandingannya jomplang.
Kenapa Dedak Terlalu Banyak Justru Bikin Produksi Turun
Saya pakai dedak sampai 100 kg karena harganya murah dan gampang didapat, ini yang biasa dilakukan banyak peternak untuk menekan biaya, dan awalnya saya pikir tidak masalah karena puyuh terlihat kenyang dan makan lahap. Tapi kenyang bukan berarti kebutuhan energinya tercukupi. Dedak punya kandungan serat yang tinggi dan energinya rendah, jadi puyuh cepat merasa penuh perutnya sebelum kebutuhan energi hariannya benar-benar tercapai. Ini yang bikin saya sempat bingung, pakan habis banyak, tapi telur tetap sedikit. Masalahnya bukan di jumlah pakan yang dimakan, tapi di kualitas energi yang masuk.
Efek dari energi kurang ini logikanya begini: kalau energi harian tidak cukup, tubuh puyuh akan memprioritaskan mempertahankan kondisi tubuhnya sendiri dulu, baru sisanya dipakai untuk produksi telur. Jadi protein tinggi yang saya kasih pun jadi kurang maksimal sebagian protein itu justru terpakai sebagai sumber energi cadangan, padahal harusnya dipakai untuk membentuk telur. Ini pelajaran yang paling saya ingat, protein tinggi tidak ada gunanya kalau energi dasarnya bolong.
Tanda-Tanda yang Saya Amati Waktu Itu
- Produksi telur turun perlahan, bukan mendadak
- Ada beberapa telur yang ukurannya mengecil
- Konsumsi pakan jadi lebih boros dari biasanya
- Puyuh terlihat kurang aktif dibanding biasanya
- Produksi harian jadi naik-turun, tidak stabil
Awalnya saya kira ini murni soal umur, karena puyuh usia 1 tahun memang wajar mulai turun produksinya dibanding usia muda. Tapi setelah dibandingkan, penurunannya jauh lebih dalam dari yang seharusnya terjadi karena faktor umur saja dan itu yang bikin saya curiga ke arah pakan.
Baca Juga:
- Cara Memilih Bibit Puyuh Petelur Unggulan
- Racikan Pakan Puyuh Petelur Agar Produksi Telur 80%
- Membuat Indukan Pada Puyuh Sendiri
Evaluasi yang Saya Lakukan Setelah Sadar Masalahnya
Setelah produksi terus rendah, saya hitung ulang total biaya pakan dibanding hasil telur yang didapat. Ternyata secara keuntungan juga tidak menguntungkan, pakan memang terasa lebih murah di atas kertas, tapi karena hasil telur turun cukup jauh, kalau dihitung ujung-ujungnya sama saja, bahkan cenderung rugi karena biaya pakan tetap jalan setiap hari sementara telur yang dijual berkurang.
Dari situ saya mulai mengurangi porsi dedak dan menambah sumber energi. Saya juga jadi lebih perhatian ke kualitas bahan baku, bukan cuma harganya, dedak yang sudah agak tengik atau kelamaan disimpan ternyata ikut memengaruhi hasil, jadi sekarang saya tidak asal beli dedak murah tanpa cek kondisinya dulu.
Yang Saya Pegang Sekarang Sebelum Racik Pakan
1. Jangan asal campur, harus dihitung keseimbangannya
Kebutuhan nutrisi puyuh petelur itu detail, bukan cuma soal protein tinggi dan puyuh mau makan. Harus ada keseimbangan antara protein, energi, mineral, vitamin, kalsium, dan asam amino. Kalau salah satu timpang, produksi telur yang kena imbasnya.
2. Dedak bisa digunakan, tetapi jangan sampai mendominasi.
Dedak tetap saya pakai karena memang membantu menekan biaya, tapi sekarang porsinya saya kurangi supaya tidak mendominasi komposisi dan menekan asupan energi puyuh.
3. Jagung jangan dianggap remeh
Jagung adalah sumber energi utama untuk unggas, dan dari pengalaman saya porsinya tidak bisa ditekan terlalu rendah hanya demi menghemat biaya bahan.
4. Catat produksi telur setiap hari
Dulu saya terlalu santai dan baru sadar setelah penurunan sudah cukup parah. Sekarang saya catat produksi harian, jadi begitu ada penurunan saya bisa langsung evaluasi pakan dan kondisi kandang sebelum masalahnya membesar.
Faktor Lain di Luar Pakan yang Ikut Saya Perhatikan
Selain komposisi pakan, ada beberapa hal lain yang menurut pengamatan saya ikut memengaruhi produksi telur di kandang saya: kandang yang terlalu panas membuat puyuh gampang stres dan produksi langsung turun, air minum yang tidak bersih membuat puyuh cepat bermasalah, pencahayaan yang kurang membuat produksi ikut menurun, dan kandang yang terlalu padat juga jadi sumber stres tersendiri. Semua ini saya cek berbarengan dengan pakan setiap kali produksi mulai turun, karena penyebabnya jarang cuma satu faktor tunggal.
Kesimpulan
Pengalaman menurunnya produksi sampai 1200 butir per hari dari 2000 ekor ini jadi pelajaran besar buat saya. Awalnya saya kira memakai dedak banyak bisa menghemat biaya, ternyata yang terjadi justru produksi anjlok dan secara hitungan akhir tidak lebih untung. Kuncinya ada di keseimbangan energi dan protein, protein tinggi saja percuma kalau energi dari jagung tidak cukup.
Buat peternak lain yang mau coba racik pakan sendiri, saran saya, hitung dulu kebutuhan nutrisinya dengan benar sebelum eksekusi, jangan cuma mengejar bahan yang murah. Pakan yang kelihatannya hemat di awal bisa jadi lebih mahal kalau ujungnya bikin produksi telur turun.

Gabung dalam percakapan