Langsung ke konten utama

Pinned Post

Kenapa Puyuh Bertelur Tidak Setiap Hari?

Puyuh petelur yang sudah memasuki masa produksi tidak selalu menghasilkan jumlah telur yang sama setiap hari. Ada hari ketika hampir semua betina bertelur, tetapi pada hari berikutnya jumlah telur yang terkumpul bisa berkurang. Kondisi ini perlu dibedakan antara variasi produksi yang masih wajar dan penurunan yang menunjukkan adanya masalah dalam pemeliharaan. Kesalahan yang sering terjadi saat menghadapi penurunan telur adalah langsung mengganti pakan atau menambahkan suplemen tanpa memeriksa penyebabnya. Padahal, produksi telur dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan, mulai dari umur puyuh, kecukupan nutrisi, ketersediaan air minum, pencahayaan, kondisi lingkungan, hingga kesehatan ternak. Untuk mengetahui penyebabnya, peternak perlu melihat pola produksi selama beberapa hari, bukan hanya membandingkan hasil panen hari ini dengan kemarin. Dari catatan tersebut, perubahan produksi dapat diperiksa bersama kondisi pakan, air minum, kandang, dan perilaku puyuh. ...

Penyebab Produksi Telur Puyuh Turun Akibat Salah Adukan Pakan

Peternakan puyuh petelur 2000 ekor dengan adukan pakan buatan sendiri
Foto puyuh petelur yang saya pelihara dengan sistem pakan adukan sendiri.

Ringkasnya: racikan pakan saya waktu itu terlalu banyak dedak (±45% dari campuran) dan jagungnya cuma ±9%, sehingga energi pakan kurang dan produksi turun ke sekitar 1.200 butir per hari dari 2.000 ekor (60%). Pelajarannya: protein tinggi tidak menolong kalau energinya bolong.

Waktu itu puyuh yang saya pelihara ada sekitar 2.000 ekor, rata-rata sudah berumur 1 tahunan. Karena harga pakan pabrikan terus naik, saya coba racik pakan sendiri pakai bahan yang gampang dicari di daerah saya, dengan harapan biaya turun tapi keuntungan tetap jalan. Komposisi yang saya pakai (total 221 kg):

BahanJumlahPorsi dari campuran
Dedak100 kg±45%
Konsentrat protein 36%25 kg±11%
Tepung ikan protein 30%25 kg±11%
Jagung20 kg±9%
Mineral1 kg±0,5%
Pakan puyuh petelur pabrikan protein 20%50 kg±23%
Total221 kg100%

Awalnya saya cukup yakin adukan ini bagus karena ada tepung ikan dan konsentrat, jadi protein pasti tinggi. Tapi setelah dijalankan beberapa minggu, produksi telur malah terus turun. Dari 2.000 ekor, telur yang saya dapat cuma sekitar 1.200 butir per hari. Kalau dihitung (1.200 ÷ 2.000 × 100), itu setara 60 persen saja, padahal sebelumnya produksinya lebih tinggi dari itu.

Kesalahan Saya: Terlalu Fokus ke Protein, Lupa Energi

Waktu itu logika saya sederhana: makin tinggi protein, makin banyak telur. Makanya konsentrat dan tepung ikan saya tambahkan cukup banyak. Setelah saya tanya ke beberapa peternak senior dan coba hitung ulang kandungan nutrisinya, ternyata masalah utamanya bukan di protein, tapi di energi pakan yang terlalu rendah. Jagung yang saya pakai cuma 20 kg (±9% dari campuran), sementara dedak 100 kg (±45%) dari total adukan 221 kg. Perbandingannya jomplang: dedak lima kali lipat jagung.

Kenapa Dedak Terlalu Banyak Justru Bikin Produksi Turun

Saya pakai dedak sampai 100 kg karena harganya murah dan gampang didapat. Ini yang biasa dilakukan banyak peternak untuk menekan biaya, dan awalnya saya pikir tidak masalah karena puyuh terlihat kenyang dan makan lahap. Tapi kenyang bukan berarti kebutuhan energinya tercukupi. Dedak punya kandungan serat yang tinggi dan energinya rendah, jadi puyuh cepat merasa penuh perutnya sebelum kebutuhan energi hariannya benar-benar tercapai. Ini yang bikin saya sempat bingung: pakan habis banyak, tapi telur tetap sedikit. Masalahnya bukan di jumlah pakan yang dimakan, tapi di kualitas energi yang masuk.

Efek dari energi kurang ini logikanya begini: kalau energi harian tidak cukup, tubuh puyuh akan memprioritaskan mempertahankan kondisi tubuhnya sendiri dulu, baru sisanya dipakai untuk produksi telur. Jadi protein tinggi yang saya kasih pun jadi kurang maksimal: sebagian protein itu justru terpakai sebagai sumber energi cadangan, padahal harusnya dipakai untuk membentuk telur. Ini pelajaran yang paling saya ingat: protein tinggi tidak ada gunanya kalau energi dasarnya bolong.

Tanda-Tanda yang Saya Amati Waktu Itu

  • Produksi telur turun perlahan, bukan mendadak
  • Ada beberapa telur yang ukurannya mengecil
  • Konsumsi pakan jadi lebih boros dari biasanya
  • Puyuh terlihat kurang aktif dibanding biasanya
  • Produksi harian jadi naik-turun, tidak stabil

Awalnya saya kira ini murni soal umur, karena puyuh usia 1 tahun memang wajar mulai turun produksinya dibanding usia muda. Tapi setelah dibandingkan, penurunannya jauh lebih dalam dari yang seharusnya terjadi karena faktor umur saja, dan itu yang bikin saya curiga ke arah pakan.

Baca Juga:

Evaluasi yang Saya Lakukan Setelah Sadar Masalahnya

Setelah produksi terus rendah, saya hitung ulang total biaya pakan dibanding hasil telur yang didapat. Ternyata hasilnya juga tidak menguntungkan. Pakan memang terasa lebih murah di atas kertas, tapi karena hasil telur turun cukup jauh, kalau dihitung ujung-ujungnya sama saja, bahkan cenderung rugi, karena biaya pakan tetap jalan setiap hari sementara telur yang dijual berkurang.

Dari situ saya mulai mengurangi porsi dedak dan menambah sumber energi. Saya juga jadi lebih perhatian ke kualitas bahan baku, bukan cuma harganya. Dedak yang sudah agak tengik atau kelamaan disimpan ternyata ikut memengaruhi hasil, jadi sekarang saya tidak asal beli dedak murah tanpa cek kondisinya dulu.

Yang Saya Pegang Sekarang Sebelum Racik Pakan

1. Jangan asal campur, harus dihitung keseimbangannya

Kebutuhan nutrisi puyuh petelur itu detail, bukan cuma soal protein tinggi dan puyuh mau makan. Harus ada keseimbangan antara protein, energi, mineral, vitamin, kalsium, dan asam amino. Kalau salah satu timpang, produksi telur yang kena imbasnya.

2. Dedak bisa digunakan, tetapi jangan sampai mendominasi

Dedak tetap saya pakai karena memang membantu menekan biaya, tapi sekarang porsinya saya kurangi supaya tidak mendominasi komposisi dan menekan asupan energi puyuh.

3. Jagung jangan dianggap remeh

Jagung adalah sumber energi utama untuk unggas, dan dari pengalaman saya porsinya tidak bisa ditekan terlalu rendah hanya demi menghemat biaya bahan.

4. Catat produksi telur setiap hari

Dulu saya terlalu santai dan baru sadar setelah penurunan sudah cukup parah. Sekarang saya catat produksi harian, jadi begitu ada penurunan saya bisa langsung evaluasi pakan dan kondisi kandang sebelum masalahnya membesar.

Faktor Lain di Luar Pakan yang Ikut Saya Perhatikan

Selain komposisi pakan, ada beberapa hal lain yang menurut pengamatan saya ikut memengaruhi produksi telur di kandang saya:

  • Kandang terlalu panas: puyuh gampang stres dan produksi langsung turun.
  • Air minum tidak bersih: puyuh cepat bermasalah.
  • Pencahayaan kurang: produksi ikut menurun.
  • Kandang terlalu padat: jadi sumber stres tersendiri.

Semua ini saya cek berbarengan dengan pakan setiap kali produksi mulai turun, karena penyebabnya jarang cuma satu faktor tunggal.

Kesimpulan

Pengalaman menurunnya produksi sampai 1.200 butir per hari dari 2.000 ekor (60%) ini jadi pelajaran besar buat saya. Awalnya saya kira memakai dedak banyak bisa menghemat biaya, ternyata yang terjadi justru produksi anjlok dan secara hitungan akhir tidak lebih untung. Kuncinya ada di keseimbangan energi dan protein: protein tinggi saja percuma kalau energi dari jagung tidak cukup.

Buat peternak lain yang mau coba racik pakan sendiri, saran saya, hitung dulu kebutuhan nutrisinya dengan benar sebelum eksekusi, jangan cuma mengejar bahan yang murah. Pakan yang kelihatannya hemat di awal bisa jadi lebih mahal kalau ujungnya bikin produksi telur turun.

Untuk perbandingan, hitungan hasil kandang saya yang sekarang (1.150 ekor Autumn, produksi 84–88%) ada di artikel Hasil Ternak 1.150 Ekor Puyuh Selama 30 Hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Memilih Bibit Puyuh Petelur Unggul Agar Cepat Bertelur

Tips Memilih Bibit Puyuh Petelur Unggul Agar Cepat Bertelur Saya sering ditanya peternak pemula: kenapa puyuh saya sudah umur 6 minggu tapi belum juga bertelur, padahal tetangga yang beli DOC bareng-bareng puyuhnya sudah produksi duluan? Setelah beberapa kali gonta-ganti sumber bibit, saya sadar akar masalahnya hampir selalu sama: bibit awal yang dipilih asal-asalan. Kandang bagus dan pakan mahal tidak banyak membantu kalau dari awal DOC yang dibeli memang bukan turunan petelur unggul. Ringkasnya: saya memilih anakan umur 7–10 hari dengan bulu rapi, mata cerah, ukuran seragam, dan gerak aktif, lalu menanyakan riwayat indukannya ke penjual. Soal harga, saya tidak mengejar yang paling murah. (Di artikel ini, "DOC" saya pakai untuk anakan puyuh umur 7–10 hari.) Berikut cara saya menyeleksi bibit sebelum dibawa pulang ke kandang, berdasarkan apa yang sudah saya praktikkan sendiri. Ciri Fisik Bibit yang Saya Periksa Sebelum Beli Saat datang ke peternak bibit, saya tidak...

Puyuh Blaster VS Puyuh Auntum, Mana Yang Bagus Untuk Dikembangkan

Gambar bibit puyuh blaster dan auntum usia 37 hari 1.000 ekor puyuh blaster lokal dan 1.000 ekor puyuh auntum, saya pelihara berdampingan di kandang, pakan, dan perawatan yang sama persis. Bukan perbandingan di atas kertas, tapi hasil pengamatan langsung selama menjalankan keduanya bersamaan. Perbedaannya cukup jelas terlihat, tapi tidak sesederhana "yang satu lebih bagus dari yang lain". Ada faktor usia, cara jual telur di daerah saya, sampai daya tahan terhadap cuaca yang ikut menentukan mana yang lebih cocok. Sistem Pemeliharaan yang Saya Samakan untuk Keduanya Supaya perbandingannya adil, kandang untuk kedua jenis puyuh ini saya buat seukuran dan semodel, masing-masing kamar diisi sekitar 40 ekor. Pakannya juga dari campuran yang sama, kadar protein sekitar 18,6%. Untuk takaran pakan, saya pakai asumsi 22 gram per ekor per hari. Artinya kebutuhan per kamar (40 ekor) sebenarnya sekitar 880 gram. Tapi dalam praktiknya saya selalu kasih sekitar 1 kilogram per kamar...

Modal Rp500 Ribu untuk 1.000 Telur Puyuh, Berapa yang Berhasil Menetas?

Mesin tetas telur puyuh rakitan sendiri kapasitas 1000 butir Ringkasnya: saya menetaskan 1.000 butir telur fertil puyuh GPS (Rp500.000) di mesin tetas rakitan sendiri: box triplek 140 × 60 × 40 cm, termostat digital Rp36.000, dan 9 bohlam. Suhu dijaga 37,5–38,5°C dengan kelembapan 50–60%, telur dibalik manual 3 kali sehari dari hari ke-4 sampai ke-15. Hasilnya 750 ekor menetas (75%), dengan biaya sekitar Rp715 per ekor dibanding harga DOC Rp4.000 per ekor. Rp4.000 per ekor. Itu harga DOC puyuh umur 10 hari yang biasa saya beli di daerah saya waktu masih mengandalkan bibit dari luar. Kedengarannya murah, tapi begitu saya hitung untuk menambah populasi dalam jumlah ratusan ekor, angkanya langsung terasa berat di kantong. Dari situ saya mulai cari cara supaya bibit puyuh bisa lebih murah. Waktu itu saya belum kenal istilah parent stock atau grand parent stock, apalagi kepikiran bikin DOC sendiri secara rutin. Yang ada di kepala saya cuma satu: gimana caranya dapat bibit tanpa harus...