Langsung ke konten utama

Pinned Post

Kenapa Puyuh Bertelur Tidak Setiap Hari?

Puyuh petelur yang sudah memasuki masa produksi tidak selalu menghasilkan jumlah telur yang sama setiap hari. Ada hari ketika hampir semua betina bertelur, tetapi pada hari berikutnya jumlah telur yang terkumpul bisa berkurang. Kondisi ini perlu dibedakan antara variasi produksi yang masih wajar dan penurunan yang menunjukkan adanya masalah dalam pemeliharaan. Kesalahan yang sering terjadi saat menghadapi penurunan telur adalah langsung mengganti pakan atau menambahkan suplemen tanpa memeriksa penyebabnya. Padahal, produksi telur dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan, mulai dari umur puyuh, kecukupan nutrisi, ketersediaan air minum, pencahayaan, kondisi lingkungan, hingga kesehatan ternak. Untuk mengetahui penyebabnya, peternak perlu melihat pola produksi selama beberapa hari, bukan hanya membandingkan hasil panen hari ini dengan kemarin. Dari catatan tersebut, perubahan produksi dapat diperiksa bersama kondisi pakan, air minum, kandang, dan perilaku puyuh. ...

Apakah Pakan Pabrikan Membuat Puyuh Lebih Lama Bertelur? Ini Pengalaman Saya Selama 26 Bulan

Telur puyuh segar hasil peternakan puyuh petelur sebagai perbandingan penggunaan pakan pabrikan dan pakan racikan sendiri
Telur Puyuh Fresh Dikandang Sendiri

Ringkasnya: dari dua periode di kandang saya (2.000 ekor dengan pakan pabrikan protein 20% dan 2.500 ekor dengan pakan racikan protein ±19%), produksi puncaknya hampir sama, yaitu ±96% dan ±95%. Bedanya muncul di umur panjang: populasi pakan pabrikan bertahan di 1.500–1.600 butir per hari (75–80%) sampai mendekati usia 2 tahun, sedangkan populasi racikan jatuh ke 900–1.100 butir per hari (36–44%) di usia 13–15 bulan. Selisih harga pakan Rp2.500 per kg memang terasa hemat, tapi perlu dihitung bersama umur produktifnya.

Saya pernah dua kali menjalankan populasi puyuh petelur dalam skala ribuan ekor dengan jenis pakan yang berbeda: satu periode pakai pakan pabrikan penuh, satu periode lagi pakai pakan racikan sendiri karena mengejar biaya lebih murah. Dua-duanya saya catat perkembangannya dari puncak produksi sampai afkir, dan hasilnya jauh berbeda dari yang saya bayangkan di awal.

Waktu itu logika saya sederhana: kalau bisa menekan harga pakan per kilogram, keuntungan otomatis naik. Ternyata yang menentukan untung-rugi bukan cuma harga pakannya, tapi berapa lama puyuh itu sanggup bertahan produktif. Ini yang baru saya sadari setelah membandingkan dua periode itu secara langsung, bukan dari teori.

Tulisan ini murni dari apa yang saya alami di kandang sendiri. Bukan buat menjelekkan pakan racikan, karena pakan racikan juga punya kelebihannya sendiri. Tujuan saya cuma berbagi data lapangan soal pengaruh jenis pakan terhadap umur produktif puyuh petelur, biar peternak lain yang lagi menimbang dua pilihan ini punya gambaran nyata sebelum memutuskan.

Periode Pertama: 2.000 Ekor Puyuh dengan Pakan Pabrikan

Di periode ini saya pelihara sekitar 2.000 ekor puyuh petelur, dan sejak awal bertelur saya kasih pakan pabrikan khusus petelur dengan kandungan protein sekitar 20%. Saat itu saya belum terlalu pusing hitung-hitungan biaya pakan per kilogram, prioritas saya cuma satu: produksi harus stabil dan puncak.

Berikut catatan produksinya dari awal sampai afkir:

  • Usia 3–6 bulan (puncak produksi): ±1.928 butir/hari dari 2.000 ekor (±96%). Cangkang relatif kuat dan ukuran telur cukup seragam, jadi gampang dipasarkan tanpa banyak sortir.
  • Usia 7–13 bulan: turun ke kisaran 1.600 butir/hari (80%), tapi setelah itu produksinya landai di angka segitu cukup lama, tidak terus merosot.
  • Usia 14 bulan–2 tahun: masih bertahan di 1.500–1.600 butir/hari (75–80%).

Waktu produksi masuk usia 13 bulan dan masih di angka 1.600 butir/hari, sebenarnya saya sempat mikir ini sudah waktunya afkir. Banyak peternak yang saya kenal biasanya ganti populasi di usia sekitar setahun karena dianggap sudah lewat masa produktif. Tapi karena angka produksinya masih bagus dan puyuh masih sehat, saya pilih lanjutkan saja sambil tetap kasih pakan pabrikan seperti biasa. Ternyata keputusan itu yang bikin saya baru ngeh kalau usia "layak afkir" itu tidak sekaku yang saya kira, selama produksi dan kondisi fisiknya masih mendukung.

Baca Juga: Kenapa Harga Puyuh di Sumbar Anjlok Pasca Lebaran 2026?

Hasilnya, populasi ini tetap produktif sampai mendekati usia 2 tahun tanpa saya perlu beli bibit baru sama sekali. Buat saya ini penghematan yang nyata, bukan cuma dari sisi harga bibit, tapi juga dari waktu tunggu sampai populasi baru mulai bertelur lagi, yang kalau dihitung bisa beberapa bulan tanpa produksi optimal.

Tanda-Tanda Puyuh Sudah Waktunya Diafkir

Produksi baru benar-benar anjlok waktu puyuh masuk usia 26 bulan. Telur harian turun ke 800–900 butir/hari (±40–45%), dan ini dibarengi tanda fisik yang jelas: kuku dan paruh puyuh mulai memanjang. Dua hal ini yang jadi patokan saya buat memutuskan afkir, bukan cuma dari usia atau feeling.

Kalau peternak lain mau pakai patokan yang sama, ini yang saya amati: selama produksi masih stabil di kisaran yang wajar dan kondisi fisik puyuh (kuku, paruh, bulu, keaktifan) masih normal, populasi masih layak dipertahankan. Begitu dua indikator itu turun bareng, yaitu produksi drop tajam dan tanda-tanda fisik menua muncul, itu sinyal untuk mulai siapkan peremajaan.

Periode Kedua: Coba Pakan Racikan Sendiri di 2.500 Ekor Puyuh

Di periode berikutnya saya mulai lagi dengan populasi lebih besar, sekitar 2.500 ekor. Kali ini saya mulai hitung biaya pakan lebih detail karena skalanya makin besar. Harga pakan pabrikan saat itu ±Rp405.000/karung isi 50 kg, atau setara ±Rp8.100/kg. Setelah saya racik sendiri dengan kandungan protein ±19%, biayanya bisa saya tekan jadi sekitar Rp5.600/kg. Selisihnya ±Rp2.500/kg, lumayan besar kalau dikalikan konsumsi harian ribuan ekor.

Dengan selisih sebesar itu, keputusan pindah ke pakan racikan waktu itu terasa masuk akal secara hitung-hitungan di atas kertas.

Produksinya Bagus di Awal, Tapi Ambruk di Usia 13–15 Bulan

Tiga bulan pertama hasilnya justru meyakinkan saya. Saat puncak produksi di usia 3–6 bulan, telur harian tembus ±2.380 butir dari 2.500 ekor (±95%). Persentasenya hampir sama dengan periode pakan pabrikan (±96%), dan jumlah butirnya lebih banyak hanya karena populasinya lebih besar. Masuk usia 7–12 bulan, produksi masih stabil di 2.000–2.150 butir/hari (80–86%). Sampai titik ini saya makin yakin pakan racikan bisa jadi solusi hemat biaya tanpa mengorbankan hasil.

Tapi begitu masuk usia 13–15 bulan, produksi jatuh drastis ke 900–1.100 butir/hari (36–44%). Ini bukan penurunan bertahap seperti di periode pakan pabrikan, tapi anjlok dalam waktu singkat. Yang bikin saya bingung: kandang, kualitas air minum, pencahayaan, dan penanganan kesehatan semuanya saya jalankan sama persis seperti periode sebelumnya. Satu-satunya variabel yang beda cuma jenis pakannya.

Perbandingan Produksi Dua Periode

Usia puyuhPakan pabrikan (2.000 ekor)Pakan racikan (2.500 ekor)
3–6 bulan±1.928 butir (±96%)±2.380 butir (±95%)
7–12 bulan±1.600 butir (80%)2.000–2.150 butir (80–86%)
13–15 bulan1.500–1.600 butir (75–80%)900–1.100 butir (36–44%)
16 bulan–2 tahun1.500–1.600 butir (75–80%)tidak ada data
±26 bulan800–900 butir (±40–45%)tidak ada data

Persentase dihitung dari jumlah puyuh awal masing-masing periode.

Kenapa Bisa Beda Jauh Padahal Sistem Perawatan Sama

Karena penasaran, saya tanya ke beberapa peternak puyuh lain yang sudah lebih lama jalan. Polanya cukup konsisten: peternak yang pakai pakan pabrikan secara terus-menerus rata-rata bisa mempertahankan produksi sampai mendekati usia 2 tahun, sementara yang pakai pakan racikan sendiri rata-rata afkir di usia 12–14 bulan karena produksi sudah turun terlalu jauh untuk dipertahankan.

Dari situ saya menduga, dan ini murni dugaan saya sendiri, bukan hasil uji lab, bahwa kandungan protein 19–20% saja belum tentu cukup untuk menjaga umur produktif jangka panjang. Kemungkinan ada faktor lain yang lebih sulit saya sesuaikan lewat racikan mandiri, seperti keseimbangan asam amino esensial (metionin, lisin), rasio kalsium-fosfor untuk cangkang, dan mineral mikro lain yang di pakan pabrikan sudah diformulasikan sesuai kebutuhan puyuh petelur per fase umur. Kalau racikan sendiri mau menyamai ini, perlu bahan baku dan formulasi yang jauh lebih detail dari yang saya lakukan waktu itu.

Baca Juga: Perbedaan Puyuh Blaster dan Autumn, Untung Yang Mana?

Menimbang Ulang: Selisih Harga per Kilogram vs Umur Produktif

Selisih Rp2.500/kg antara pakan racikan dan pabrikan itu nyata dan langsung kelihatan di pengeluaran harian. Tapi begitu populasi racikan saya afkir lebih cepat, sekitar 12–14 bulan dibanding hampir 2 tahun di periode pakan pabrikan, saya harus beli bibit baru dan menunggu masa bertelur lagi jauh lebih sering. Biaya bibit baru dan hilangnya masa produktif selama proses peremajaan itu yang menurut saya perlu ikut dihitung, bukan cuma dibandingkan dari harga pakan per kilogram saja.

Ini bukan berarti pakan racikan selalu merugikan. Kalau memang tujuannya ternak jangka pendek dengan siklus ganti populasi cepat, atau harga telur sedang turun sehingga menekan biaya harian jadi prioritas, racikan sendiri masih bisa jadi pilihan. Tapi kalau tujuannya mempertahankan populasi produktif selama mungkin dengan frekuensi ganti bibit yang jarang, dari pengalaman saya pakan pabrikan lebih konsisten hasilnya.

Buat peternak yang mau coba bandingkan sendiri, cara paling sederhana adalah catat produksi harian per minggu dari awal bertelur sampai afkir, lalu bandingkan trennya, bukan cuma dilihat dari angka bulan pertama saja. Penurunan drastis yang tiba-tiba di usia 13–15 bulan seperti yang saya alami baru kelihatan pola pastinya kalau dicatat rutin, bukan dikira-kira.

Kesimpulan

Dari dua periode ini, pakan pabrikan terbukti menjaga produksi puyuh saya tetap stabil di 1.500–1.600 butir/hari sampai usia hampir 2 tahun. Pakan racikan sendiri sama bagusnya di awal (puncak produksi ±95%, setara pakan pabrikan) tapi ambruk begitu masuk usia 13–15 bulan.

Kalau ditanya mana yang lebih menguntungkan, jawaban saya: tergantung tujuan dan kondisi pasar telur saat itu. Tapi kalau prioritasnya mempertahankan populasi produktif selama mungkin dan mengurangi frekuensi beli bibit baru, saya pribadi sekarang lebih pilih pakan pabrikan meski harga per kilogramnya lebih tinggi.

Ini bukan aturan baku, karena tiap kandang punya kondisi dan formulasi pakan racikan yang beda-beda. Tapi setidaknya ini gambaran nyata dari dua populasi yang saya jalankan sendiri, dengan sistem perawatan yang sama persis kecuali jenis pakannya.

Baca Juga: Penyebab Produksi Telur Puyuh Menurun

Angka di artikel ini berasal dari dua populasi lama saya (2.000 dan 2.500 ekor). Hitungan kandang saya yang sekarang (1.150 ekor Autumn, produksi 84–88%) ada di artikel Hasil Ternak 1.150 Ekor Puyuh Selama 30 Hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Memilih Bibit Puyuh Petelur Unggul Agar Cepat Bertelur

Tips Memilih Bibit Puyuh Petelur Unggul Agar Cepat Bertelur Saya sering ditanya peternak pemula: kenapa puyuh saya sudah umur 6 minggu tapi belum juga bertelur, padahal tetangga yang beli DOC bareng-bareng puyuhnya sudah produksi duluan? Setelah beberapa kali gonta-ganti sumber bibit, saya sadar akar masalahnya hampir selalu sama: bibit awal yang dipilih asal-asalan. Kandang bagus dan pakan mahal tidak banyak membantu kalau dari awal DOC yang dibeli memang bukan turunan petelur unggul. Ringkasnya: saya memilih anakan umur 7–10 hari dengan bulu rapi, mata cerah, ukuran seragam, dan gerak aktif, lalu menanyakan riwayat indukannya ke penjual. Soal harga, saya tidak mengejar yang paling murah. (Di artikel ini, "DOC" saya pakai untuk anakan puyuh umur 7–10 hari.) Berikut cara saya menyeleksi bibit sebelum dibawa pulang ke kandang, berdasarkan apa yang sudah saya praktikkan sendiri. Ciri Fisik Bibit yang Saya Periksa Sebelum Beli Saat datang ke peternak bibit, saya tidak...

Puyuh Blaster VS Puyuh Auntum, Mana Yang Bagus Untuk Dikembangkan

Gambar bibit puyuh blaster dan auntum usia 37 hari 1.000 ekor puyuh blaster lokal dan 1.000 ekor puyuh auntum, saya pelihara berdampingan di kandang, pakan, dan perawatan yang sama persis. Bukan perbandingan di atas kertas, tapi hasil pengamatan langsung selama menjalankan keduanya bersamaan. Perbedaannya cukup jelas terlihat, tapi tidak sesederhana "yang satu lebih bagus dari yang lain". Ada faktor usia, cara jual telur di daerah saya, sampai daya tahan terhadap cuaca yang ikut menentukan mana yang lebih cocok. Sistem Pemeliharaan yang Saya Samakan untuk Keduanya Supaya perbandingannya adil, kandang untuk kedua jenis puyuh ini saya buat seukuran dan semodel, masing-masing kamar diisi sekitar 40 ekor. Pakannya juga dari campuran yang sama, kadar protein sekitar 18,6%. Untuk takaran pakan, saya pakai asumsi 22 gram per ekor per hari. Artinya kebutuhan per kamar (40 ekor) sebenarnya sekitar 880 gram. Tapi dalam praktiknya saya selalu kasih sekitar 1 kilogram per kamar...

Modal Rp500 Ribu untuk 1.000 Telur Puyuh, Berapa yang Berhasil Menetas?

Mesin tetas telur puyuh rakitan sendiri kapasitas 1000 butir Ringkasnya: saya menetaskan 1.000 butir telur fertil puyuh GPS (Rp500.000) di mesin tetas rakitan sendiri: box triplek 140 × 60 × 40 cm, termostat digital Rp36.000, dan 9 bohlam. Suhu dijaga 37,5–38,5°C dengan kelembapan 50–60%, telur dibalik manual 3 kali sehari dari hari ke-4 sampai ke-15. Hasilnya 750 ekor menetas (75%), dengan biaya sekitar Rp715 per ekor dibanding harga DOC Rp4.000 per ekor. Rp4.000 per ekor. Itu harga DOC puyuh umur 10 hari yang biasa saya beli di daerah saya waktu masih mengandalkan bibit dari luar. Kedengarannya murah, tapi begitu saya hitung untuk menambah populasi dalam jumlah ratusan ekor, angkanya langsung terasa berat di kantong. Dari situ saya mulai cari cara supaya bibit puyuh bisa lebih murah. Waktu itu saya belum kenal istilah parent stock atau grand parent stock, apalagi kepikiran bikin DOC sendiri secara rutin. Yang ada di kepala saya cuma satu: gimana caranya dapat bibit tanpa harus...