Langsung ke konten utama

Pinned Post

Kenapa Puyuh Bertelur Tidak Setiap Hari?

Puyuh petelur yang sudah memasuki masa produksi tidak selalu menghasilkan jumlah telur yang sama setiap hari. Ada hari ketika hampir semua betina bertelur, tetapi pada hari berikutnya jumlah telur yang terkumpul bisa berkurang. Kondisi ini perlu dibedakan antara variasi produksi yang masih wajar dan penurunan yang menunjukkan adanya masalah dalam pemeliharaan. Kesalahan yang sering terjadi saat menghadapi penurunan telur adalah langsung mengganti pakan atau menambahkan suplemen tanpa memeriksa penyebabnya. Padahal, produksi telur dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan, mulai dari umur puyuh, kecukupan nutrisi, ketersediaan air minum, pencahayaan, kondisi lingkungan, hingga kesehatan ternak. Untuk mengetahui penyebabnya, peternak perlu melihat pola produksi selama beberapa hari, bukan hanya membandingkan hasil panen hari ini dengan kemarin. Dari catatan tersebut, perubahan produksi dapat diperiksa bersama kondisi pakan, air minum, kandang, dan perilaku puyuh. ...

Racik Pakan Puyuh Petelur Sendiri: Hitungan Biaya per Butir Telur

Puyuh petelur dan pakan racikan sendiri di kandang saya

Pakan adalah pengeluaran terbesar di kandang puyuh. Dari catatan saya, lebih dari 70 persen biaya produksi habis di pakan, jadi wajar kalau banyak peternak, termasuk saya, tergoda meracik sendiri. Di kandang 2.000 ekor saya pernah menjalankan tiga racikan berbeda, dan hasilnya jauh berbeda: produksi 60 persen, 80 persen, dan 95 persen.

Ringkasnya: racikan termurah belum tentu paling menguntungkan, dan racikan dengan produksi tertinggi belum tentu paling hemat. Ukuran yang akhirnya saya pakai adalah biaya pakan per butir telur dibandingkan harga jual, bukan persen produksi atau harga pakan per kilogram saja.

Baca Juga: Hasil ternak 1.150 ekor puyuh selama 30 hari, berapa keuntungan yang saya dapat?

Tiga Racikan yang Pernah Saya Jalankan

Ketiganya dijalankan pada kandang 2.000 ekor dengan bahan yang mudah dicari di daerah saya, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Harga bahan di daerah lain bisa berbeda.

Racikan Protein Harga per kg Produksi
221 kg: dedak 100 kg, pakan pabrikan 50 kg, konsentrat 25 kg, tepung ikan 25 kg, jagung 20 kg, mineral 1 kg (puyuh ±1 tahun) ±18,2% (hitungan saya) Tidak saya catat ±1.200 butir per hari (60%)
Racikan protein 19% 19% ±Rp7.400 ±1.900 butir per hari (95%)
217 kg: dedak 100 kg, pakan pabrikan 45 kg, konsentrat 45 kg, jagung 25 kg, mineral 2 kg (puyuh ±8 bulan) ±18,1% ±Rp5.670 ±1.600 butir per hari (80%)

Rincian bahan, harga, dan hitungan racikan protein 18% ada di Racikan Pakan Puyuh Petelur Usia 8 Bulan. Cerita racikan pertama, yang produksinya jatuh ke 60 persen, ada di Penyebab Produksi Telur Puyuh Turun Akibat Salah Adukan Pakan.

Protein Hampir Sama, Hasil Berbeda

Ketika saya menghitung ulang, protein racikan pertama (±18,2%) ternyata hampir sama dengan racikan ketiga (±18,1%). Porsi dedaknya pun mirip, sekitar 45 sampai 46 persen. Tetapi produksinya 60 persen berbanding 80 persen.

Perbedaan yang saya catat ada tiga: jagung di racikan ketiga lebih banyak (±11,5% dibanding ±9%), komposisi konsentrat dan tepung ikannya berbeda, dan puyuh pada racikan pertama berumur sekitar satu tahun, sedangkan pada racikan ketiga sekitar delapan bulan. Waktu itu dugaan saya energi pakan yang kurang, karena dedak banyak dan jagung sedikit. Tetapi karena ketiga hal berubah bersamaan, saya tidak bisa memisahkan pengaruhnya satu per satu.

Sebagai pembanding, rujukan umum untuk puyuh petelur biasanya sekitar protein 20 persen dengan energi metabolis 2.700 sampai 2.900 kkal per kg. Angka itu rujukan umum, bukan hasil kandang saya. Racikan protein 18% saya berenergi ±2.350 kkal per kg, di bawah rujukan itu, dan produksinya 80 persen. Saya tidak mengklaim itu satu-satunya sebab, karena umur dan kondisi kandang ikut berpengaruh.

Cara Saya Menghitung Protein dan Energi

Caranya sederhana: kalikan jumlah tiap bahan dengan kandungan nutrisinya, jumlahkan, lalu bagi dengan total berat racikan. Contoh dari racikan 217 kg:

Bahan Jumlah Protein Energi (kkal/kg)
Dedak100 kg12% = 12 kg1.800
Pakan pabrikan45 kg20% = 9 kg2.900
Konsentrat45 kg36% = 16,2 kg2.600
Jagung giling25 kg8,5% = 2,1 kg3.300
Total 217 kg39,3 kg ÷ 217 = ±18,1%510.000 ÷ 217 = ±2.350

Nilai kandungan nutrisi bahan saya ambil dari label dan perkiraan umum, jadi hasilnya perkiraan, bukan hasil uji laboratorium. Meski begitu, hitungan seperti ini cukup untuk membandingkan satu racikan dengan racikan lain secara adil.

Ukuran yang Lebih Jujur: Biaya Pakan per Butir

Persen produksi dan harga pakan per kilogram sama-sama bisa menyesatkan kalau dilihat sendiri-sendiri. Racikan protein 18% memangkas harga pakan sekitar 23 persen, tetapi produksi turun sekitar 16 persen. Supaya jelas, saya hitung biaya pakan per butir telur:

Kondisi Pakan per hari Produksi per hari Biaya pakan per butir
Racikan 19% (Rp7.400/kg), 2.000 ekor 50 kg = Rp370.000 1.900 butir ±Rp195
Racikan 18% (Rp5.670/kg), 2.000 ekor 50 kg = Rp283.500 1.600 butir ±Rp177
1.150 ekor Autumn (Rp6.000/kg), Agustus 29,9 kg = Rp179.400 970–1.015 butir ±Rp177–185

Dengan harga telur Mei 2026 rata-rata Rp32.000 per 100 butir (Rp320 per butir), selisih antara jual dan biaya pakan adalah sekitar Rp125 per butir untuk racikan 19% dan Rp143 per butir untuk racikan 18%. Pada Agustus, dengan harga Rp310 per butir, selisihnya sekitar Rp125 sampai Rp133 per butir untuk Autumn.

Dalam rupiah per hari, racikan 19% menyisakan Rp238.000 dan racikan 18% menyisakan Rp228.500. Racikan 19% unggul tipis, tetapi titik impasnya ada di harga telur sekitar Rp28.800 per 100 butir. Di bawah harga itu, racikan 18% yang lebih murah justru lebih menguntungkan. Karena harga telur di daerah saya sering naik turun, alasan saya bertahan di racikan 18% adalah ketahanan, bukan keuntungan yang jauh lebih besar.

Pakan yang saya habiskan per butir telur juga ikut berubah: sekitar 26 gram pada racikan 19% (95 persen produksi), dan sekitar 31 gram pada racikan 18% (80 persen). Angka ini murni dari catatan saya dan bukan standar yang berlaku umum, tetapi cukup membantu mendeteksi kebocoran. Kalau gram pakan per butir naik tanpa sebab yang jelas, saya mulai mencurigai pakan tercecer, kualitas bahan, atau kondisi puyuh.

Takaran Pakan Harian

Untuk puyuh umur sekitar 8 bulan di kandang 2.000 ekor, saya memberi 25 gram per ekor per hari, atau 50 kg per hari. Untuk Autumn umur sekitar 4 bulan di kandang 1.150 ekor, saya memberi 26 gram per ekor, atau 29,9 kg per hari. Efek kekurangan pakan cepat terlihat: kalau jatah dikurangi, produksi biasanya turun dalam beberapa hari. Kalau jatah dikembalikan cukup dan kualitasnya baik, produksi naik lagi, tetapi butuh beberapa hari untuk pulih.

Baca Juga: Puyuh Peksi, jenis petelur unggulan

Kualitas Bahan Sama Pentingnya dengan Harga

  • Dedak. Tetap saya pakai karena menekan biaya, tetapi porsinya tidak boleh mendominasi. Dedak yang sudah agak tengik atau terlalu lama disimpan ikut memengaruhi hasil, jadi saya cek kondisinya sebelum membeli.
  • Jagung. Sumber energi utama. Dari pengalaman saya, porsinya jangan ditekan terlalu rendah hanya demi menghemat biaya.
  • Air minum bersih. Sama pentingnya dengan pakan bergizi untuk menjaga produksi.

Mengganti Pakan Jangan Sekaligus

Sekitar dua minggu sebelum muncul kasus kanibalisme di satu petak, saya mulai mencampur 70 persen pakan pabrikan dengan 30 persen racikan sendiri untuk menekan biaya. Setelah dihitung ulang, protein racikan itu hanya 17 sampai 18 persen, sedangkan pakan yang biasa saya pakai 19 sampai 21 persen. Saya tidak bisa menyebutnya penyebab tunggal, karena lampu kandang juga saya ganti pada periode yang sama. Tetapi sejak itu saya tidak lagi mengubah dua hal besar dalam waktu berdekatan. Kronologinya ada di Kanibalisme Puyuh di Kandang Saya.

Langkah Saya Sebelum Meracik Pakan Baru

  1. Tulis komposisi dan harga bahan hari itu, lalu hitung harga jadi per kilogram.
  2. Hitung protein dan energi seperti contoh di atas, dan bandingkan dengan racikan sebelumnya.
  3. Catat produksi harian dalam persen dan biaya pakan per butir selama dua sampai tiga minggu, bukan beberapa hari saja.
  4. Ubah satu hal pada satu waktu supaya jelas mana yang berpengaruh.
  5. Hitung ulang saat harga telur berubah, karena racikan terbaik pada satu harga telur belum tentu terbaik pada harga lain.

Kesimpulan

Dari tiga racikan di kandang saya, pelajaran terbesarnya bukan soal bahan tertentu, melainkan cara menilai. Persen produksi, protein, dan harga per kilogram baru berguna kalau dihitung bersama sebagai biaya pakan per butir dan dibandingkan dengan harga telur saat itu. Hasil di kandang Anda bisa berbeda karena bibit, umur, cuaca, dan harga bahan di daerah masing-masing. Karena itu, anggap angka-angka di sini sebagai contoh cara menghitung, bukan resep yang harus ditiru persis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Memilih Bibit Puyuh Petelur Unggul Agar Cepat Bertelur

Tips Memilih Bibit Puyuh Petelur Unggul Agar Cepat Bertelur Saya sering ditanya peternak pemula: kenapa puyuh saya sudah umur 6 minggu tapi belum juga bertelur, padahal tetangga yang beli DOC bareng-bareng puyuhnya sudah produksi duluan? Setelah beberapa kali gonta-ganti sumber bibit, saya sadar akar masalahnya hampir selalu sama: bibit awal yang dipilih asal-asalan. Kandang bagus dan pakan mahal tidak banyak membantu kalau dari awal DOC yang dibeli memang bukan turunan petelur unggul. Ringkasnya: saya memilih anakan umur 7–10 hari dengan bulu rapi, mata cerah, ukuran seragam, dan gerak aktif, lalu menanyakan riwayat indukannya ke penjual. Soal harga, saya tidak mengejar yang paling murah. (Di artikel ini, "DOC" saya pakai untuk anakan puyuh umur 7–10 hari.) Berikut cara saya menyeleksi bibit sebelum dibawa pulang ke kandang, berdasarkan apa yang sudah saya praktikkan sendiri. Ciri Fisik Bibit yang Saya Periksa Sebelum Beli Saat datang ke peternak bibit, saya tidak...

Puyuh Blaster VS Puyuh Auntum, Mana Yang Bagus Untuk Dikembangkan

Gambar bibit puyuh blaster dan auntum usia 37 hari 1.000 ekor puyuh blaster lokal dan 1.000 ekor puyuh auntum, saya pelihara berdampingan di kandang, pakan, dan perawatan yang sama persis. Bukan perbandingan di atas kertas, tapi hasil pengamatan langsung selama menjalankan keduanya bersamaan. Perbedaannya cukup jelas terlihat, tapi tidak sesederhana "yang satu lebih bagus dari yang lain". Ada faktor usia, cara jual telur di daerah saya, sampai daya tahan terhadap cuaca yang ikut menentukan mana yang lebih cocok. Sistem Pemeliharaan yang Saya Samakan untuk Keduanya Supaya perbandingannya adil, kandang untuk kedua jenis puyuh ini saya buat seukuran dan semodel, masing-masing kamar diisi sekitar 40 ekor. Pakannya juga dari campuran yang sama, kadar protein sekitar 18,6%. Untuk takaran pakan, saya pakai asumsi 22 gram per ekor per hari. Artinya kebutuhan per kamar (40 ekor) sebenarnya sekitar 880 gram. Tapi dalam praktiknya saya selalu kasih sekitar 1 kilogram per kamar...

Modal Rp500 Ribu untuk 1.000 Telur Puyuh, Berapa yang Berhasil Menetas?

Mesin tetas telur puyuh rakitan sendiri kapasitas 1000 butir Ringkasnya: saya menetaskan 1.000 butir telur fertil puyuh GPS (Rp500.000) di mesin tetas rakitan sendiri: box triplek 140 × 60 × 40 cm, termostat digital Rp36.000, dan 9 bohlam. Suhu dijaga 37,5–38,5°C dengan kelembapan 50–60%, telur dibalik manual 3 kali sehari dari hari ke-4 sampai ke-15. Hasilnya 750 ekor menetas (75%), dengan biaya sekitar Rp715 per ekor dibanding harga DOC Rp4.000 per ekor. Rp4.000 per ekor. Itu harga DOC puyuh umur 10 hari yang biasa saya beli di daerah saya waktu masih mengandalkan bibit dari luar. Kedengarannya murah, tapi begitu saya hitung untuk menambah populasi dalam jumlah ratusan ekor, angkanya langsung terasa berat di kantong. Dari situ saya mulai cari cara supaya bibit puyuh bisa lebih murah. Waktu itu saya belum kenal istilah parent stock atau grand parent stock, apalagi kepikiran bikin DOC sendiri secara rutin. Yang ada di kepala saya cuma satu: gimana caranya dapat bibit tanpa harus...