Pakan adalah pengeluaran terbesar di kandang puyuh. Dari catatan saya, lebih dari 70 persen biaya produksi habis di pakan, jadi wajar kalau banyak peternak, termasuk saya, tergoda meracik sendiri. Di kandang 2.000 ekor saya pernah menjalankan tiga racikan berbeda, dan hasilnya jauh berbeda: produksi 60 persen, 80 persen, dan 95 persen.
Ringkasnya: racikan termurah belum tentu paling menguntungkan, dan racikan dengan produksi tertinggi belum tentu paling hemat. Ukuran yang akhirnya saya pakai adalah biaya pakan per butir telur dibandingkan harga jual, bukan persen produksi atau harga pakan per kilogram saja.
Baca Juga: Hasil ternak 1.150 ekor puyuh selama 30 hari, berapa keuntungan yang saya dapat?
Tiga Racikan yang Pernah Saya Jalankan
Ketiganya dijalankan pada kandang 2.000 ekor dengan bahan yang mudah dicari di daerah saya, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Harga bahan di daerah lain bisa berbeda.
| Racikan | Protein | Harga per kg | Produksi |
|---|---|---|---|
| 221 kg: dedak 100 kg, pakan pabrikan 50 kg, konsentrat 25 kg, tepung ikan 25 kg, jagung 20 kg, mineral 1 kg (puyuh ±1 tahun) | ±18,2% (hitungan saya) | Tidak saya catat | ±1.200 butir per hari (60%) |
| Racikan protein 19% | 19% | ±Rp7.400 | ±1.900 butir per hari (95%) |
| 217 kg: dedak 100 kg, pakan pabrikan 45 kg, konsentrat 45 kg, jagung 25 kg, mineral 2 kg (puyuh ±8 bulan) | ±18,1% | ±Rp5.670 | ±1.600 butir per hari (80%) |
Rincian bahan, harga, dan hitungan racikan protein 18% ada di Racikan Pakan Puyuh Petelur Usia 8 Bulan. Cerita racikan pertama, yang produksinya jatuh ke 60 persen, ada di Penyebab Produksi Telur Puyuh Turun Akibat Salah Adukan Pakan.
Protein Hampir Sama, Hasil Berbeda
Ketika saya menghitung ulang, protein racikan pertama (±18,2%) ternyata hampir sama dengan racikan ketiga (±18,1%). Porsi dedaknya pun mirip, sekitar 45 sampai 46 persen. Tetapi produksinya 60 persen berbanding 80 persen.
Perbedaan yang saya catat ada tiga: jagung di racikan ketiga lebih banyak (±11,5% dibanding ±9%), komposisi konsentrat dan tepung ikannya berbeda, dan puyuh pada racikan pertama berumur sekitar satu tahun, sedangkan pada racikan ketiga sekitar delapan bulan. Waktu itu dugaan saya energi pakan yang kurang, karena dedak banyak dan jagung sedikit. Tetapi karena ketiga hal berubah bersamaan, saya tidak bisa memisahkan pengaruhnya satu per satu.
Sebagai pembanding, rujukan umum untuk puyuh petelur biasanya sekitar protein 20 persen dengan energi metabolis 2.700 sampai 2.900 kkal per kg. Angka itu rujukan umum, bukan hasil kandang saya. Racikan protein 18% saya berenergi ±2.350 kkal per kg, di bawah rujukan itu, dan produksinya 80 persen. Saya tidak mengklaim itu satu-satunya sebab, karena umur dan kondisi kandang ikut berpengaruh.
Cara Saya Menghitung Protein dan Energi
Caranya sederhana: kalikan jumlah tiap bahan dengan kandungan nutrisinya, jumlahkan, lalu bagi dengan total berat racikan. Contoh dari racikan 217 kg:
| Bahan | Jumlah | Protein | Energi (kkal/kg) |
|---|---|---|---|
| Dedak | 100 kg | 12% = 12 kg | 1.800 |
| Pakan pabrikan | 45 kg | 20% = 9 kg | 2.900 |
| Konsentrat | 45 kg | 36% = 16,2 kg | 2.600 |
| Jagung giling | 25 kg | 8,5% = 2,1 kg | 3.300 |
| Total 217 kg | 39,3 kg ÷ 217 = ±18,1% | 510.000 ÷ 217 = ±2.350 |
Nilai kandungan nutrisi bahan saya ambil dari label dan perkiraan umum, jadi hasilnya perkiraan, bukan hasil uji laboratorium. Meski begitu, hitungan seperti ini cukup untuk membandingkan satu racikan dengan racikan lain secara adil.
Ukuran yang Lebih Jujur: Biaya Pakan per Butir
Persen produksi dan harga pakan per kilogram sama-sama bisa menyesatkan kalau dilihat sendiri-sendiri. Racikan protein 18% memangkas harga pakan sekitar 23 persen, tetapi produksi turun sekitar 16 persen. Supaya jelas, saya hitung biaya pakan per butir telur:
| Kondisi | Pakan per hari | Produksi per hari | Biaya pakan per butir |
|---|---|---|---|
| Racikan 19% (Rp7.400/kg), 2.000 ekor | 50 kg = Rp370.000 | 1.900 butir | ±Rp195 |
| Racikan 18% (Rp5.670/kg), 2.000 ekor | 50 kg = Rp283.500 | 1.600 butir | ±Rp177 |
| 1.150 ekor Autumn (Rp6.000/kg), Agustus | 29,9 kg = Rp179.400 | 970–1.015 butir | ±Rp177–185 |
Dengan harga telur Mei 2026 rata-rata Rp32.000 per 100 butir (Rp320 per butir), selisih antara jual dan biaya pakan adalah sekitar Rp125 per butir untuk racikan 19% dan Rp143 per butir untuk racikan 18%. Pada Agustus, dengan harga Rp310 per butir, selisihnya sekitar Rp125 sampai Rp133 per butir untuk Autumn.
Dalam rupiah per hari, racikan 19% menyisakan Rp238.000 dan racikan 18% menyisakan Rp228.500. Racikan 19% unggul tipis, tetapi titik impasnya ada di harga telur sekitar Rp28.800 per 100 butir. Di bawah harga itu, racikan 18% yang lebih murah justru lebih menguntungkan. Karena harga telur di daerah saya sering naik turun, alasan saya bertahan di racikan 18% adalah ketahanan, bukan keuntungan yang jauh lebih besar.
Pakan yang saya habiskan per butir telur juga ikut berubah: sekitar 26 gram pada racikan 19% (95 persen produksi), dan sekitar 31 gram pada racikan 18% (80 persen). Angka ini murni dari catatan saya dan bukan standar yang berlaku umum, tetapi cukup membantu mendeteksi kebocoran. Kalau gram pakan per butir naik tanpa sebab yang jelas, saya mulai mencurigai pakan tercecer, kualitas bahan, atau kondisi puyuh.
Takaran Pakan Harian
Untuk puyuh umur sekitar 8 bulan di kandang 2.000 ekor, saya memberi 25 gram per ekor per hari, atau 50 kg per hari. Untuk Autumn umur sekitar 4 bulan di kandang 1.150 ekor, saya memberi 26 gram per ekor, atau 29,9 kg per hari. Efek kekurangan pakan cepat terlihat: kalau jatah dikurangi, produksi biasanya turun dalam beberapa hari. Kalau jatah dikembalikan cukup dan kualitasnya baik, produksi naik lagi, tetapi butuh beberapa hari untuk pulih.
Baca Juga: Puyuh Peksi, jenis petelur unggulan
Kualitas Bahan Sama Pentingnya dengan Harga
- Dedak. Tetap saya pakai karena menekan biaya, tetapi porsinya tidak boleh mendominasi. Dedak yang sudah agak tengik atau terlalu lama disimpan ikut memengaruhi hasil, jadi saya cek kondisinya sebelum membeli.
- Jagung. Sumber energi utama. Dari pengalaman saya, porsinya jangan ditekan terlalu rendah hanya demi menghemat biaya.
- Air minum bersih. Sama pentingnya dengan pakan bergizi untuk menjaga produksi.
Mengganti Pakan Jangan Sekaligus
Sekitar dua minggu sebelum muncul kasus kanibalisme di satu petak, saya mulai mencampur 70 persen pakan pabrikan dengan 30 persen racikan sendiri untuk menekan biaya. Setelah dihitung ulang, protein racikan itu hanya 17 sampai 18 persen, sedangkan pakan yang biasa saya pakai 19 sampai 21 persen. Saya tidak bisa menyebutnya penyebab tunggal, karena lampu kandang juga saya ganti pada periode yang sama. Tetapi sejak itu saya tidak lagi mengubah dua hal besar dalam waktu berdekatan. Kronologinya ada di Kanibalisme Puyuh di Kandang Saya.
Langkah Saya Sebelum Meracik Pakan Baru
- Tulis komposisi dan harga bahan hari itu, lalu hitung harga jadi per kilogram.
- Hitung protein dan energi seperti contoh di atas, dan bandingkan dengan racikan sebelumnya.
- Catat produksi harian dalam persen dan biaya pakan per butir selama dua sampai tiga minggu, bukan beberapa hari saja.
- Ubah satu hal pada satu waktu supaya jelas mana yang berpengaruh.
- Hitung ulang saat harga telur berubah, karena racikan terbaik pada satu harga telur belum tentu terbaik pada harga lain.
Kesimpulan
Dari tiga racikan di kandang saya, pelajaran terbesarnya bukan soal bahan tertentu, melainkan cara menilai. Persen produksi, protein, dan harga per kilogram baru berguna kalau dihitung bersama sebagai biaya pakan per butir dan dibandingkan dengan harga telur saat itu. Hasil di kandang Anda bisa berbeda karena bibit, umur, cuaca, dan harga bahan di daerah masing-masing. Karena itu, anggap angka-angka di sini sebagai contoh cara menghitung, bukan resep yang harus ditiru persis.

Komentar
Posting Komentar