Pertanyaan "puyuh petelur sebaiknya diafkir umur berapa?" hampir selalu dijawab dengan angka: 12 bulan, 14 bulan, 18 bulan. Angka seperti itu menenangkan karena sederhana, tetapi di kandang saya angka tidak pernah bisa dipakai begitu saja. Dari dua kelompok puyuh yang pernah saya catat, satu bertahan berproduksi sampai sekitar dua tahun, sedangkan kelompok lain sudah anjlok pada umur 13 sampai 15 bulan. Umur yang sama, nasib yang sangat berbeda. Karena itu saya berhenti bertanya "berapa bulan" dan mulai bertanya hal lain: apakah seekor puyuh masih menutup biayanya hari ini, dan berapa lama penggantinya baru menutup biaya penggantiannya.
Artikel ini adalah cara berpikir yang saya pakai untuk menjawab dua pertanyaan itu, lengkap dengan hitungannya. Angka yang saya pakai sebagai contoh sebagian berasal dari kandang saya (pakan 26 gram per ekor per hari, Rp6.000 per kilogram, harga telur Rp230 sampai Rp310 per butir), dan sebagian adalah asumsi yang saya tandai jelas sebagai contoh. Silakan ganti dengan angka kandang Anda sendiri.
Kenapa Umur Bukan Jawaban yang Baik
Umur hanyalah pengganti dari hal yang sebenarnya ingin kita ketahui, yaitu uang. Puyuh berumur 16 bulan yang berproduksi 80 persen pada harga telur bagus masih menguntungkan. Puyuh berumur 10 bulan yang berproduksi 40 persen karena pakannya bermasalah sudah merugi. Kalau keputusan didasarkan pada umur, Anda bisa mengafkir puyuh yang masih sehat secara ekonomi, atau mempertahankan puyuh yang sebenarnya sedang menggerogoti kas.
Catatan kandang saya memperlihatkan hal ini dengan jelas. Dalam artikel Apakah Pakan Pabrikan Membuat Puyuh Lebih Lama Bertelur? Pengalaman 26 Bulan, kandang dengan pakan pabrikan protein sekitar 20 persen memegang produksi sekitar 75 sampai 80 persen pada umur 13 sampai 15 bulan, lalu turun ke kisaran 40 sampai 45 persen pada sekitar 26 bulan. Kandang dengan racikan protein sekitar 19 persen berproduksi 80 sampai 86 persen pada umur 7 sampai 13 bulan, lalu jatuh ke 36 sampai 44 persen pada umur 13 sampai 15 bulan. Penyebab pastinya tidak bisa saya buktikan. Dugaan saya, protein saja tidak cukup, dan faktor seperti asam amino, rasio kalsium dan fosfor, serta mineral mikro mungkin ikut berperan, tetapi itu dugaan, bukan hasil uji laboratorium.
Dua Tanda yang Membuat Saya Mulai Menghitung
Ada dua tanda yang saya jadikan pemicu. Pertama, produksi turun tajam, bukan sekadar bergeser beberapa poin dari hari ke hari. Kedua, tanda fisik menua, terutama kuku dan paruh yang memanjang. Dua tanda ini tidak memutuskan apa pun. Mereka hanya menyuruh saya berhenti menebak dan mulai menghitung, karena yang menentukan adalah apakah ekor puyuh itu masih menghasilkan lebih banyak daripada yang dimakannya dan lebih banyak daripada biaya lain yang harus ditanggung kandang.
Biaya Harian per Ekor
Langkah pertama adalah menurunkan semuanya menjadi angka per ekor per hari, supaya keputusan tidak bergantung pada besar kandang. Dengan jatah 26 gram per ekor dan harga pakan Rp6.000 per kilogram, biaya pakan adalah Rp156 per ekor per hari. Untuk 1.150 ekor, itu setara Rp179.400 per hari.
Biaya lain seperti listrik, vitamin, tenaga kerja, dan penyusutan kandang belum punya angka di blog ini, jadi saya pakai contoh Rp50.000 per hari untuk 1.150 ekor, sekitar Rp43,5 per ekor. Kalau Anda punya angka sebenarnya, ganti. Totalnya sekitar Rp199,5 per ekor per hari. Titik impas produksi adalah angka itu dibagi harga telur.
| Harga telur per butir | Titik impas, pakan saja | Titik impas, pakan dan biaya lain contoh |
|---|---|---|
| Rp230 | 67,8% | 86,7% |
| Rp310 | 50,3% | 64,3% |
| Rp390 | 40,0% | 51,1% |
Lihat betapa jauh angka itu bergeser. Pada Rp230, kandang yang berproduksi 80 persen sudah rugi bila semua biaya dihitung, walau pakannya masih tertutup. Pada Rp310, produksi 65 persen sudah cukup untuk impas. Artinya, "kapan diafkir" tidak punya satu jawaban. Jawabannya ikut bergerak bersama harga telur. Itu sebabnya saya selalu menghitung ulang setiap kali harga berubah, dan tidak menyimpan satu umur afkir sebagai aturan tetap.
Membaca Data Umur dengan Titik Impas
Sekarang pakai angka produksi dari catatan di atas. Tabel berikut menghitung sisa setelah pakan per ekor per hari, yaitu nilai telur dikurangi Rp156.
| Kondisi produksi | Sisa setelah pakan, harga Rp310 | Sisa setelah pakan, harga Rp230 |
|---|---|---|
| 96% (puncak) | +Rp142 | +Rp65 |
| 80% | +Rp92 | +Rp28 |
| 75% | +Rp77 | +Rp17 |
| 40–45% | -Rp32 sampai -Rp17 | -Rp64 sampai -Rp53 |
| 36–44% | -Rp44 sampai -Rp20 | -Rp73 sampai -Rp55 |
Ada tiga pelajaran dari tabel ini. Pertama, produksi 75 sampai 80 persen pada harga Rp310 masih memberi sisa setelah pakan yang layak, jadi mempertahankan kelompok pada tahap itu masuk akal. Kedua, begitu produksi jatuh ke kisaran 36 sampai 45 persen, setiap ekor yang dipertahankan sudah menambah kerugian bahkan hanya dari pakan. Ketiga, kalau biaya lain contoh ikut dimasukkan dan harga turun ke Rp230, produksi 75 sampai 80 persen bergeser menjadi rugi tipis, sekitar Rp15 sampai Rp27 per ekor per hari. Kelompok yang kemarin tampak "aman" bisa berubah jadi beban hanya karena harga telur bergeser.
Biaya Menggantinya
Mengafkir tidak otomatis menyelesaikan masalah, karena pengganti butuh modal dan waktu. Komponen yang saya hitung ada tiga. Yang pertama harga bibit. DOC umur 7 sampai 10 hari yang saya pakai sebagai patokan seharga sekitar Rp4.000 per ekor. Kalau menetas sendiri, biayanya sekitar Rp715 per ekor pada daya tetas 75 persen, dengan catatan itu belum termasuk listrik dan pakan awal (Modal Rp500 Ribu untuk 1.000 Telur Puyuh). Yang kedua pakan masa tumbuh. Puyuh muda baru mulai bertelur sekitar enam minggu, dalam kisaran 35 sampai 50 hari, dan selama itu pakan keluar tanpa pemasukan. Yang ketiga hasil jual puyuh afkir, yang mengurangi biaya penggantian. Harganya berbeda di tiap daerah dan tidak ada di catatan saya, jadi tidak saya masukkan.
Untuk batas atas, saya menganggap puyuh muda memakan pakan sebanyak puyuh dewasa (Rp156 per hari) selama 25 sampai 40 hari. Padahal puyuh muda makan lebih sedikit, jadi angka sebenarnya lebih kecil. Dengan asumsi itu, biaya penggantian per ekor sekitar Rp7.900 sampai Rp10.200. Kalau kelompok lama rugi Rp44 per ekor per hari pada produksi 36 persen, dan pengganti berproduksi 88 persen, selisih keuntungan per hari adalah sekitar Rp161. Biaya penggantian lunas dalam kira-kira 49 sampai 64 hari produksi. Kalau pengganti hanya berproduksi 80 persen, waktunya sekitar 58 sampai 75 hari. Untuk kelompok yang rugi lebih kecil (Rp20 per ekor per hari pada produksi 44 persen), waktunya sedikit lebih panjang, sekitar 58 sampai 92 hari tergantung produksi pengganti.
Hitungan ini kasar dan tidak memasukkan penurunan produksi pengganti seiring umur. Meski begitu, arahnya jelas: kelompok yang sudah di bawah titik impas pakan biasanya lunas penggantiannya dalam dua sampai tiga bulan produksi. Membiarkannya sambil berharap produksi naik sendiri hampir selalu lebih mahal, kecuali penyebab turunnya produksi bisa diperbaiki dengan murah (misalnya pakan yang bermasalah, bukan umur).
Sebelum Mengafkir, Pastikan Ini Bukan Masalah Lain
Produksi anjlok tidak selalu berarti puyuh sudah tua. Pakan yang kurang seimbang, kalsium yang kurang, stres, penyakit, dan perubahan pencahayaan juga bisa menurunkan produksi, dan itu bisa diperbaiki tanpa mengganti puyuh. Karena itu, sebelum memutuskan, saya mencocokkan kondisi dengan daftar penyebab di Produksi Telur Puyuh Tiba-Tiba Turun? 6 Penyebab di Kandang Saya dan memeriksa kotoran dengan panduan Cara Membaca Kotoran Puyuh. Kalau masalahnya bisa diperbaiki dalam dua sampai tiga minggu, tunggu dulu. Kalau produksi tidak kembali dan tanda fisik menua jelas, barulah hitungan afkir berlaku.
Jangan Mengafkir Sekaligus
Mengafkir seluruh kandang dalam satu hari berarti pemasukan berhenti total selama masa tumbuh pengganti, sekitar enam minggu atau lebih. Pendekatan yang umumnya lebih aman adalah mengganti bertahap per blok atau per kelompok umur, sehingga sebagian kandang tetap menghasilkan. Dengan begitu kas juga tidak terkuras sekaligus oleh pembelian bibit dan pakan masa tumbuh.
Cara bertahap juga menjaga Anda dari kesalahan yang sulit dikoreksi. Kalau Anda mengganti seluruh kandang dengan bibit dari satu sumber dan ternyata bibit itu bermasalah, seluruh produksi terkena. Dengan penggantian bertahap, kelompok pertama berfungsi sebagai uji kecil sebelum kelompok berikutnya dibeli. Untuk memilih bibit, lihat Tips Memilih Bibit Puyuh Petelur Unggul.
Aturan Keputusan yang Saya Pegang
- Hitung titik impas produksi lengkap (pakan dan biaya lain) pada harga telur hari ini dan pada harga terendah yang masuk akal bagi Anda.
- Bandingkan produksi tiap kelompok dengan titik impas itu selama dua sampai tiga minggu, bukan satu hari.
- Periksa tanda fisik dan kesehatan: kuku dan paruh memanjang, kondisi bulu, tingkat kematian.
- Pastikan penurunan bukan karena pakan, pencahayaan, atau penyakit yang bisa diperbaiki.
- Hitung biaya penggantian (bibit, pakan masa tumbuh, dikurangi hasil jual afkir) dan waktu lunasnya.
- Afkir bertahap bila produksi di bawah titik impas dan penggantian bisa lunas dalam waktu yang Anda anggap wajar. Pertahankan bila produksi masih di atas titik impas, kondisi fisik baik, dan harga telur tidak sedang turun tajam.
Pilihan Pakan Ikut Mengubah Hitungan
Di kandang saya, kelompok pakan pabrikan bertahan jauh lebih lama, tetapi harga pakannya juga lebih tinggi, sekitar Rp8.100 per kilogram dibanding racikan sekitar Rp5.600 per kilogram. Jadi perbandingannya bukan sekadar "pabrikan bertahan lebih lama". Perbandingan yang adil adalah sisa setelah pakan selama seluruh masa produktif. Untuk peternak yang ingin mempertahankan populasi produktif selama mungkin dan menghindari biaya penggantian yang sering, pakan pabrikan lebih masuk akal. Untuk peternak yang harus menjaga biaya harian serendah mungkin, racikan masih bisa dipakai, asalkan formulanya terjaga dan produksinya dipantau ketat. Itu bukan aturan baku, karena kualitas racikan tiap kandang berbeda. Cara menghitung biaya per butir dari racikan ada di BEP dan ROI Ternak Puyuh Petelur.
Kesimpulan
Umur afkir bukan angka tetap. Dari dua kandang saya, satu kelompok bertahan sekitar dua tahun dan satu lagi anjlok di umur 13 sampai 15 bulan. Yang konsisten adalah cara menilainya: hitung titik impas produksi per ekor pada harga telur saat ini, bandingkan dengan produksi kelompok, pastikan penurunannya bukan masalah yang bisa diperbaiki, lalu hitung berapa lama penggantian akan lunas. Angka di artikel ini memakai biaya pakan kandang saya dan beberapa angka contoh untuk biaya lain, jadi jadikan sebagai cara menghitung, bukan patokan yang harus ditiru.

Komentar
Posting Komentar