Langsung ke konten utama

Pinned Post

Kenapa Puyuh Bertelur Tidak Setiap Hari?

Puyuh petelur yang sudah memasuki masa produksi tidak selalu menghasilkan jumlah telur yang sama setiap hari. Ada hari ketika hampir semua betina bertelur, tetapi pada hari berikutnya jumlah telur yang terkumpul bisa berkurang. Kondisi ini perlu dibedakan antara variasi produksi yang masih wajar dan penurunan yang menunjukkan adanya masalah dalam pemeliharaan. Kesalahan yang sering terjadi saat menghadapi penurunan telur adalah langsung mengganti pakan atau menambahkan suplemen tanpa memeriksa penyebabnya. Padahal, produksi telur dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan, mulai dari umur puyuh, kecukupan nutrisi, ketersediaan air minum, pencahayaan, kondisi lingkungan, hingga kesehatan ternak. Untuk mengetahui penyebabnya, peternak perlu melihat pola produksi selama beberapa hari, bukan hanya membandingkan hasil panen hari ini dengan kemarin. Dari catatan tersebut, perubahan produksi dapat diperiksa bersama kondisi pakan, air minum, kandang, dan perilaku puyuh. ...

Racikan Pakan Puyuh Petelur Usia 8 Bulan Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Racikan Pakan Puyuh Petelur Usia 8 Bulan
Sepasang puyuh petelur jenis parent stock di peternakan saya

Ringkasnya: per Mei 2026 saya memakai racikan pakan protein ±18% (Rp5.670 per kg) untuk 2.000 ekor puyuh umur ±8 bulan. Produksinya ±80% (1.600 butir per hari), lebih rendah dari racikan protein 19% yang sebelumnya saya pakai (95%, 1.900 butir), tapi biaya pakan turun Rp86.500 per hari.

Racikan ini saya susun berdasarkan pengalaman memelihara 2.000 ekor puyuh petelur usia sekitar 8 bulan, masa di mana produksi sudah stabil dan yang jadi perhatian utama bukan lagi soal pertumbuhan, tapi soal menjaga produksi tetap jalan dengan biaya pakan yang masuk akal, apalagi harga telur di pasar sering naik turun sementara biaya pakan jarang turun.

Sebelumnya saya pakai pakan dengan protein 19%, harga jadi sekitar Rp7.400 per kg. Dibanding pakai pakan pabrikan penuh tanpa campuran, ini sudah lebih hemat. Dengan racikan protein 19% ini, produksi telur bisa mencapai 95% dari 2.000 ekor puyuh, hasilnya sekitar 1.900 butir per hari. Angka produksi ini sebenarnya bagus, tapi karena harga jual telur waktu itu cuma di level normal, keuntungan bersihnya terasa tipis karena biaya pakan masih tinggi menggerus marginnya.

Kebutuhan Pakan Harian

Untuk populasi 2.000 ekor, kebutuhan pakannya sekitar 50 kg per hari, dengan patokan 25 gram per ekor per hari. Ini standar yang saya pakai dan menurut pengalaman saya cukup aman untuk menjaga produksi tanpa membuat puyuh kekurangan nutrisi. Satu hal yang saya perhatikan: efek kekurangan pakan itu cepat terlihat. Kalau jatah pakan dikurangi, biasanya dalam beberapa hari produksi telur langsung turun. Sebaliknya, kalau pakan dikembalikan cukup dan kualitasnya bagus, produksi bisa naik lagi meski tidak instan, butuh beberapa hari untuk pulih.

Baca Juga: Perbedaan Puyuh Blaster & Autumn, Untung Yang Mana?

Mencari Racikan yang Lebih Murah Tanpa Mengorbankan Terlalu Banyak Produksi

Per Mei 2026 saya pakai racikan dengan protein sekitar 18%, dan produksinya turun ke kisaran 80% saja. Tapi harga pakan jadi juga turun, dari Rp7.400 ke sekitar Rp5.670 per kg. Ini jelas ada plus-minusnya: produksi turun, tapi biaya pakan ikut turun.

Dalam persen, biaya pakan turun ±23% (dari Rp7.400 ke Rp5.670 per kg), sedangkan produksi turun ±16% (dari 1.900 ke 1.600 butir per hari). Tapi persen saja belum cukup, jadi di bagian bawah artikel ini saya hitung juga dalam rupiah per hari.

Racikan protein 18% ini saya rasa pas untuk puyuh di atas umur 6 bulan (di kandang saya, saya jalankan saat umur sekitar 8 bulan), karena di usia segitu puyuh sudah tidak butuh protein setinggi masa grower. Yang penting protein minimal tercukupi dan energinya cukup supaya puyuh tetap aktif bertelur.

Rincian Racikan dan Harga

Berikut racikan yang saya pakai per Mei 2026, dengan harga bahan di daerah saya. Harga ini bisa berbeda di tempat lain tergantung ketersediaan dan ongkos kirim bahan baku.

Bahan PakanJumlahHarga per Kg (Rp)Total Harga (Rp)
Dedak halus100 Kg2.800280.000
Pakan pabrikan protein 20%45 Kg7.700346.500
Konsentrat petelur protein 36%45 Kg8.800396.000
Jagung giling25 Kg7.600190.000
Mineral2 Kg9.00018.000
Total217 Kg-1.230.500
Harga Jadi per Kg--± 5.670 / Kg

Jagung saya pakai sedikit saja, cuma 25 kg, karena pakan pabrikan yang jadi bahan campuran sebenarnya sudah mengandung jagung giling di dalamnya. Tambahan jagung di racikan ini fungsinya hanya untuk mengerek energi total, bukan sumber energi utama.

Perhitungan Kandungan Protein

Meski pakai racikan yang lebih murah, protein tetap harus dihitung supaya tidak turun ke titik yang membahayakan produksi. Berikut perhitungan yang saya pakai:

BahanJumlahProtein (%)Protein Total
Dedak100 Kg12%12 Kg
Pakan pabrikan45 Kg20%9 Kg
Konsentrat45 Kg36%16,2 Kg
Jagung25 Kg8,5%2,1 Kg
Mineral2 Kg0%0
Total217 Kg-39,3 Kg
Protein Akhir--±18%

Dari 217 kg total pakan, total proteinnya sekitar 39,3 kg, atau setara 18% kalau dipersentasekan. Untuk puyuh umur 8 bulan ke atas, angka ini masih di batas aman berdasarkan hasil produksi yang saya dapat sendiri di kandang.

Baca Juga: Harga Telur Puyuh Sumbar 2026, Berapa Harga Terendahnya

Perhitungan Energi Pakan

Selain protein, energi juga menentukan stamina puyuh dan kestabilan produksi. Kalau energi kurang, biasanya yang terlihat duluan adalah puyuh jadi lemas, baru setelah itu produksi ikut turun. Berikut perhitungan energi dari racikan saya:

BahanJumlahEnergi (Kkal/Kg)Total Energi
Dedak100 Kg1800180.000
Pakan pabrikan45 Kg2900130.500
Konsentrat45 Kg2600117.000
Jagung25 Kg330082.500
Mineral2 Kg00
Total217 Kg-510.000
Energi Rata-rata--±2350 Kkal/Kg

Menghitung Selisih Keuntungan terhadap Harga Telur

Harga telur di tempat saya berkisar Rp30.000–35.000 per 100 butir (Mei 2026), tergantung kondisi pasar. Untuk hitungan ini saya pakai rata-rata Rp32.000 per 100 butir, atau Rp320 per butir, dengan kebutuhan pakan 50 kg per hari.

RacikanProduksi per hariHasil kotorBiaya pakan (50 kg)Sisa setelah pakan
Protein 19% (Rp7.400/kg)1.900 butirRp608.000Rp370.000Rp238.000
Protein 18% (Rp5.670/kg)1.600 butirRp512.000Rp283.500Rp228.500

Dengan harga telur Rp32.000 per 100 butir, racikan protein 19% sebenarnya masih unggul tipis, sekitar Rp9.500 per hari. Racikan protein 18% memangkas biaya pakan Rp86.500 per hari, tapi kehilangan 300 butir telur senilai Rp96.000. Titik impasnya ada di harga telur sekitar Rp28.800 per 100 butir: di bawah itu, racikan 18% justru lebih untung.

Jadi alasan saya bertahan di racikan 18% bukan soal untung yang jauh lebih besar, tapi soal ketahanan. Beban biaya pakan harian lebih ringan, sehingga saat harga telur turun, kandang saya tidak langsung tertekan. Sisa Rp228.500 per hari juga masih cukup untuk menutup biaya lain seperti listrik, air, vitamin, dan tenaga kerja.

Kesimpulan

Racikan protein 18% ini yang per Mei 2026 saya pakai secara rutin. Hasilnya cukup menguntungkan untuk kondisi saya dan lebih aman saat harga telur turun: protein tetap tercukupi, energi masih memadai untuk produksi telur harian.

Perlu diingat, kondisi tiap peternak berbeda: harga bahan pakan di daerah lain bisa jauh berbeda, begitu juga harga jual telur. Jadi racikan ini bukan patokan yang harus ditiru persis, melainkan referensi hitungan yang bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Baca Juga: Bisakah Puyuh Aktif Bertelur Meski Usia Sudah 2 Tahun? Simak Selengkapnya

Kalau mau coba racik pakan sendiri, jangan takut bereksperimen, tapi tetap hitung protein dan energinya. Jangan cuma mengejar harga murah tanpa memastikan nutrisinya cukup, karena kerugian dari produksi yang anjlok bisa lebih besar dari penghematan biaya pakan. Satu hal lagi yang sering dianggap sepele: air minum bersih. Ini sama pentingnya dengan pakan bernutrisi untuk menjaga produksi telur tetap jalan.

Angka di artikel ini untuk kandang 2.000 ekor saat itu. Hitungan kandang saya yang sekarang (1.150 ekor Autumn, produksi 84–88%) ada di artikel Hasil Ternak 1.150 Ekor Puyuh Selama 30 Hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Memilih Bibit Puyuh Petelur Unggul Agar Cepat Bertelur

Tips Memilih Bibit Puyuh Petelur Unggul Agar Cepat Bertelur Saya sering ditanya peternak pemula: kenapa puyuh saya sudah umur 6 minggu tapi belum juga bertelur, padahal tetangga yang beli DOC bareng-bareng puyuhnya sudah produksi duluan? Setelah beberapa kali gonta-ganti sumber bibit, saya sadar akar masalahnya hampir selalu sama: bibit awal yang dipilih asal-asalan. Kandang bagus dan pakan mahal tidak banyak membantu kalau dari awal DOC yang dibeli memang bukan turunan petelur unggul. Ringkasnya: saya memilih anakan umur 7–10 hari dengan bulu rapi, mata cerah, ukuran seragam, dan gerak aktif, lalu menanyakan riwayat indukannya ke penjual. Soal harga, saya tidak mengejar yang paling murah. (Di artikel ini, "DOC" saya pakai untuk anakan puyuh umur 7–10 hari.) Berikut cara saya menyeleksi bibit sebelum dibawa pulang ke kandang, berdasarkan apa yang sudah saya praktikkan sendiri. Ciri Fisik Bibit yang Saya Periksa Sebelum Beli Saat datang ke peternak bibit, saya tidak...

Puyuh Blaster VS Puyuh Auntum, Mana Yang Bagus Untuk Dikembangkan

Gambar bibit puyuh blaster dan auntum usia 37 hari 1.000 ekor puyuh blaster lokal dan 1.000 ekor puyuh auntum, saya pelihara berdampingan di kandang, pakan, dan perawatan yang sama persis. Bukan perbandingan di atas kertas, tapi hasil pengamatan langsung selama menjalankan keduanya bersamaan. Perbedaannya cukup jelas terlihat, tapi tidak sesederhana "yang satu lebih bagus dari yang lain". Ada faktor usia, cara jual telur di daerah saya, sampai daya tahan terhadap cuaca yang ikut menentukan mana yang lebih cocok. Sistem Pemeliharaan yang Saya Samakan untuk Keduanya Supaya perbandingannya adil, kandang untuk kedua jenis puyuh ini saya buat seukuran dan semodel, masing-masing kamar diisi sekitar 40 ekor. Pakannya juga dari campuran yang sama, kadar protein sekitar 18,6%. Untuk takaran pakan, saya pakai asumsi 22 gram per ekor per hari. Artinya kebutuhan per kamar (40 ekor) sebenarnya sekitar 880 gram. Tapi dalam praktiknya saya selalu kasih sekitar 1 kilogram per kamar...

Modal Rp500 Ribu untuk 1.000 Telur Puyuh, Berapa yang Berhasil Menetas?

Mesin tetas telur puyuh rakitan sendiri kapasitas 1000 butir Ringkasnya: saya menetaskan 1.000 butir telur fertil puyuh GPS (Rp500.000) di mesin tetas rakitan sendiri: box triplek 140 × 60 × 40 cm, termostat digital Rp36.000, dan 9 bohlam. Suhu dijaga 37,5–38,5°C dengan kelembapan 50–60%, telur dibalik manual 3 kali sehari dari hari ke-4 sampai ke-15. Hasilnya 750 ekor menetas (75%), dengan biaya sekitar Rp715 per ekor dibanding harga DOC Rp4.000 per ekor. Rp4.000 per ekor. Itu harga DOC puyuh umur 10 hari yang biasa saya beli di daerah saya waktu masih mengandalkan bibit dari luar. Kedengarannya murah, tapi begitu saya hitung untuk menambah populasi dalam jumlah ratusan ekor, angkanya langsung terasa berat di kantong. Dari situ saya mulai cari cara supaya bibit puyuh bisa lebih murah. Waktu itu saya belum kenal istilah parent stock atau grand parent stock, apalagi kepikiran bikin DOC sendiri secara rutin. Yang ada di kepala saya cuma satu: gimana caranya dapat bibit tanpa harus...