Racikan Pakan Puyuh Petelur Usia 8 Bulan Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Racikan pakan puyuh petelur 18% protein harga ekonomis berdasarkan pengalaman ternak 2000 ekor lengkap hitungan biaya, protein, energi, dan keuntungan
Racikan Pakan Puyuh Petelur Usia 8 Bulan
Sepasang puyuh petelur jenis parent stock di peternakan saya

Racikan ini saya susun berdasarkan pengalaman memelihara 2000 ekor puyuh petelur usia sekitar 8 bulan, masa di mana produksi sudah stabil dan yang jadi perhatian utama bukan lagi soal pertumbuhan, tapi soal menjaga produksi tetap jalan dengan biaya pakan yang masuk akal, apalagi harga telur di pasar sering naik turun sementara biaya pakan jarang turun.

Sebelumnya saya pakai pakan dengan protein 19%, harga jadi sekitar Rp7.400 per kg. Dibanding pakai pakan pabrikan penuh tanpa campuran, ini sudah lebih hemat. Dengan racikan protein 19% ini, produksi telur bisa mencapai 95% dari 2000 ekor puyuh, hasilnya sekitar 1900 butir per hari. Angka produksi ini sebenarnya bagus, tapi karena harga jual telur waktu itu cuma di level normal, keuntungan bersihnya terasa tipis karena biaya pakan masih tinggi menggerus marginnya.

Kebutuhan Pakan Harian

Untuk populasi 2000 ekor, kebutuhan pakannya sekitar 50 kg per hari, dengan patokan 25 gram per ekor per hari, ini standar yang saya pakai dan menurut pengalaman saya cukup aman untuk menjaga produksi tanpa membuat puyuh kekurangan nutrisi. Satu hal yang saya perhatikan: efek kekurangan pakan itu cepat terlihat. Kalau jatah pakan dikurangi, biasanya dalam beberapa hari produksi telur langsung turun. Sebaliknya, kalau pakan dikembalikan cukup dan kualitasnya bagus, produksi bisa naik lagi meski tidak instan, butuh beberapa hari untuk pulih.

Baca Juga: Perbedaan Puyuh Blaster & Auntum, Untung Yang Mana?

Mencari Racikan yang Lebih Murah Tanpa Mengorbankan Terlalu Banyak Produksi

Sekarang saya pakai racikan dengan protein sekitar 18%, dan produksinya turun ke kisaran 80% saja. Tapi harga pakan jadi juga turun, dari Rp7.400 ke sekitar Rp5.670 per kg. Ini jelas ada plus-minusnya: produksi turun, tapi biaya produksi turun lebih jauh lagi.

Saya hitung begini: dengan produksi sekitar 1600 butir per hari, selisih biaya pakan yang saya hemat lebih besar dibanding nilai penurunan hasil telurnya. Jadi menurut hitungan saya, racikan yang lebih murah ini masih lebih menguntungkan secara bersih — bukan soal mengejar produksi setinggi mungkin, tapi soal menghitung biaya pakan versus hasil telur secara keseluruhan.

Racikan protein 18% ini saya rasa pas untuk puyuh di atas umur 6 bulan, karena di usia segitu puyuh sudah tidak butuh protein setinggi masa grower. Yang penting protein minimal tercukupi dan energinya cukup supaya puyuh tetap aktif bertelur.

Rincian Racikan dan Harga

Berikut racikan yang saya pakai sampai sekarang, dengan harga bahan di daerah saya, namun ini bisa berbeda di tempat lain tergantung ketersediaan dan ongkos kirim bahan baku.

Bahan PakanJumlahHarga per KgTotal Harga
Dedak halus100 Kg2.800280.000
Pakan pabrikan protein 20%45 Kg7.700346.500
Konsentrat petelur protein 36%45 Kg8.800396.000
Jagung giling25 Kg7.600190.000
Mineral2 Kg9.00018.000
Total217 Kg-1.230.500
Harga Jadi per Kg--± 5.670 / Kg

Jagung saya pakai sedikit saja, cuma 25 kg, karena pakan pabrikan yang jadi bahan campuran sebenarnya sudah mengandung jagung giling di dalamnya. Tambahan jagung di racikan ini fungsinya hanya untuk mengerek energi total, bukan sumber energi utama.

Perhitungan Kandungan Protein

Meski pakai racikan yang lebih murah, protein tetap harus dihitung supaya tidak turun ke titik yang membahayakan produksi. Berikut perhitungan yang saya pakai:

BahanJumlahProtein (%)Protein Total
Dedak100 Kg12%12 Kg
Pakan pabrikan45 Kg20%9 Kg
Konsentrat45 Kg36%16,2 Kg
Jagung25 Kg8,5%2,1 Kg
Mineral2 Kg0%0
Total217 Kg-39,3 Kg
Protein Akhir--±18%

Dari 217 kg total pakan, total proteinnya sekitar 39,3 kg, atau setara 18% kalau dipersentasekan. Untuk puyuh umur 8 bulan ke atas, angka ini masih di batas aman berdasarkan hasil produksi yang saya dapat sendiri di kandang.

Baca Juga: Harga Telur Puyuh Sumbar 2026, Berapa Harga Terendahnya

Perhitungan Energi Pakan

Selain protein, energi juga menentukan stamina puyuh dan kestabilan produksi. Kalau energi kurang, biasanya yang terlihat duluan adalah puyuh jadi lemas, baru setelah itu produksi ikut turun. Berikut perhitungan energi dari racikan saya:

BahanJumlahEnergi (Kkal/Kg)Total Energi
Dedak100 Kgtahun 1800180.000
Pakan pabrikan45 Kg2900130.500
Konsentrat45 Kg2600117.000
Jagung25 Kg330082.500
Mineral2 Kg00
Total217 Kg-510.000
Energi Rata-rata--±2350 Kkal/Kg

Menghitung Selisih Keuntungan terhadap Harga Telur

Harga telur di tempat saya berkisar Rp30.000–35.000 per 100 butir, tergantung kondisi pasar. Dengan produksi 1600 butir per hari dan harga rata-rata Rp32.000 per 100 butir, hasil kotornya sekitar Rp512.000 per hari. Kebutuhan pakan 50 kg dikali Rp5.670 per kg, biaya pakan hariannya sekitar Rp283.500.

Selisihnya masih cukup untuk menutup biaya lain seperti listrik, air, vitamin, dan tenaga kerja. Jadi meski produksi lebih rendah dibanding waktu pakai pakan protein 19%, keuntungan bersihnya menurut hitungan saya justru lebih stabil karena beban biaya pakan lebih ringan.

Kesimpulan

Racikan protein 18% ini yang sekarang saya pakai secara rutin, dan hasilnya cukup menguntungkan buat kondisi saya, protein tetap tercukupi, energi masih memadai untuk produksi telur harian.

Perlu diingat, kondisi tiap peternak berbeda: harga bahan pakan di daerah lain bisa jauh berbeda, begitu juga harga jual telur. Jadi racikan ini bukan patokan yang harus ditiru persis, melainkan referensi hitungan yang bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Baca Juga: Bisakah Puyuh Aktif Betelur Meski Usia Sudah 2 Tahun? Simak Selengkapnya

Kalau mau coba racik pakan sendiri, jangan takut bereksperimen, tapi tetap hitung protein dan energinya jangan cuma mengejar harga murah tanpa memastikan nutrisinya cukup, karena kerugian dari produksi yang anjlok bisa lebih besar dari penghematan biaya pakan. Satu hal lagi yang sering dianggap sepele: air minum bersih. Ini sama pentingnya dengan pakan bernutrisi untuk menjaga produksi telur tetap jalan.