Dari 1.000 butir telur di mesin tetas rakitan saya, 750 menetas. Daya tetas 75 persen itu sudah di kisaran yang umum bagi mesin rakitan (65 sampai 80 persen), tetapi ada 250 butir yang tidak jadi apa-apa. Waktu menulis Modal Rp500 Ribu untuk 1.000 Telur Puyuh, saya membahas biaya per anakan sekitar Rp715, tetapi tidak membahas apa yang bisa dipelajari dari telur yang gagal. Padahal telur yang gagal bisa "berbicara": cara ia gagal memberi petunjuk di mana masalahnya.
Artikel ini berbentuk kamus gejala. Anda membuka telur yang tidak menetas, melihat apa yang ada di dalamnya, lalu mencari gejalanya di bawah. Untuk setiap gejala saya tuliskan apa yang terlihat, apa yang umumnya dicurigai, cara memastikannya, dan apa yang bisa dicoba. Ini panduan umum yang saya susun dari pengalaman satu mesin dan pengetahuan yang lazim di kalangan peternak. Daftar penyebabnya adalah petunjuk, bukan diagnosis pasti, dan hasilnya bisa berbeda di mesin Anda.
Sebelum Membuka Telur: Siapkan Pembanding
Telur yang gagal hanya bisa "dibaca" kalau ada pembanding. Karena itu catat data dasar setiap tetasan: asal telur dan umur indukan, rasio jantan dan betina, berapa hari telur disimpan sebelum masuk mesin, suhu dan kelembapan pagi dan sore, jadwal pembalikan, dan gangguan seperti listrik padam atau mesin yang dibuka. Di percobaan saya, mesin berupa kotak triplek 140 x 60 x 40 cm dengan sumber panas 9 bohlam dan termostat digital seharga Rp36.000. Suhu dijaga 37,5 sampai 38,5°C, kelembapan 50 sampai 60 persen. Telur tidak dibalik pada hari 1 sampai 3, dibalik manual tiga kali sehari pada hari 4 sampai 15, lalu dibiarkan sampai menetas. Retakan pertama muncul menjelang maghrib hari ke-16 dan penetasan dimulai hari ke-17, dengan beberapa telur masih menetas pada hari ke-18 dan ke-19.
Tunggu sampai hari ke-19 atau ke-20 sebelum membuka telur yang tersisa, karena sebagian anakan menetas terlambat. Membuka terlalu cepat bisa membuat Anda membedah telur yang sebenarnya masih hidup.
Gejala 1: Isi Telur Seperti Telur Mentah, Tanpa Tanda Embrio
Kuning dan putih telur tampak seperti telur biasa. Ini umumnya berarti telur tidak dibuahi, atau embrio mati begitu dini sehingga tidak terlihat. Penyebab yang umum dicurigai ada di sisi indukan: rasio jantan terlalu sedikit, jantan terlalu muda atau terlalu tua, jantan baru saja dicampur dan belum efektif, atau betina terlalu tua. Telur yang disimpan terlalu lama juga bisa membuat embrio tidak berkembang meski dibuahi.
Untuk memastikan, bandingkan persentase gejala ini antar tetasan dari kandang indukan yang berbeda. Kalau satu kandang indukan selalu menghasilkan banyak telur seperti ini, masalahnya ada di kandang itu. Di kandang pembibitan, rasio yang saya pakai adalah 30 betina berbanding 7 jantan, tetapi itu hanya satu rasio yang pernah saya pakai, bukan angka ideal yang sudah saya uji bandingkan. Kalau gejala ini dominan, memutar suhu mesin tidak akan membantu. Periksa indukan dan rasio jantannya dulu.
Gejala 2: Cincin Darah atau Bercak Merah Kecil
Embrio sempat mulai berkembang lalu mati, sering dalam beberapa hari pertama. Yang terlihat adalah cincin darah tipis atau bercak kecil di sekitar kuning telur. Penyebab yang umum dicurigai adalah suhu awal yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, telur yang pernah kedinginan atau terlalu lama disimpan, serta telur yang terguncang atau jatuh.
Cara memastikannya adalah memeriksa catatan suhu pada tiga sampai lima hari pertama. Pada mesin rakitan dengan satu sensor termostat, suhu di titik telur bisa berbeda dari suhu yang dibaca sensor. Pasang termometer kedua di ketinggian telur dan bandingkan. Selisih lebih dari sekitar satu derajat patut dicurigai. Pastikan juga mesin sudah stabil di suhu kerja beberapa jam sebelum telur dimasukkan, dan jangan memasukkan telur langsung dari tempat dingin.
Gejala 3: Embrio Berkembang Sebagian, Bulu Belum Terbentuk
Embrio tampak seperti anakan kecil tetapi masih belum berbulu, biasanya mati di pertengahan masa tetas. Penyebab yang umum dicurigai adalah suhu yang naik turun berulang, pembalikan yang tidak teratur, serta nutrisi indukan yang kurang. Di kandang indukan yang pakannya kurang vitamin dan mineral, embrio kadang berhenti di tahap ini.
Gejala ini sulit dipastikan dengan satu pemeriksaan. Yang bisa dilakukan adalah mencocokkan tanggal. Apakah ada listrik padam di sekitar hari kematian, apakah mesin dibuka lama, atau apakah jadwal balik terlewat? Meneropong pada hari ke-5 sampai ke-7 dan hari ke-12 sampai ke-14 membantu memperkirakan kapan embrio mati. Ingat bahwa kematian yang terlihat pada peneropongan terjadi beberapa hari sebelumnya.
Gejala 4: Anakan Sudah Berbulu Penuh Tetapi Mati di Dalam Telur
Ini gejala yang paling menyakitkan karena anakannya sudah terbentuk sempurna. Penyebab yang umum dicurigai berada di tahap akhir: kelembapan yang tidak tepat, ventilasi yang kurang sehingga oksigen berkurang, atau suhu yang terlalu tinggi menjelang menetas. Di mesin rakitan tertutup tanpa kipas, ventilasi sering menjadi titik lemah.
Periksa kelembapan dengan higrometer, jangan hanya menebak dari wadah air. Di percobaan saya kelembapan 50 sampai 60 persen. Banyak panduan menyarankan kelembapan lebih rendah di awal dan dinaikkan menjelang menetas, tetapi saya belum menguji perbedaannya di mesin saya, jadi anggap itu bahan percobaan berikutnya, bukan rekomendasi pasti. Periksa juga apakah ada lubang udara yang cukup di mesin dan apakah bohlam membuat udara di dalam terasa pengap.
Gejala 5: Cangkang Sudah Retak atau Berlubang, Anakan Mati di Dalam
Anakan sudah mulai memecah cangkang tetapi tidak berhasil keluar. Penyebab yang umum dicurigai adalah kelembapan terlalu rendah sehingga selaput di dalam cangkang mengering dan menempel pada anakan, suhu yang terlalu tinggi, atau mesin yang dibuka terlalu sering pada saat menetas sehingga kelembapan turun mendadak.
Karena itu saya menyarankan tidak membuka mesin pada hari-hari penetasan kecuali benar-benar perlu. Di percobaan saya, penetasan tersebar dari hari ke-17 sampai ke-19. Jangan membantu anakan keluar dengan mengupas cangkang, karena anakan yang dibantu terlalu cepat sering lemah atau berdarah.
Gejala 6: Menetas Tetapi Lemah, Cacat, atau Tidak Serempak
Anakan yang menetas dengan kaki membengkok, perut besar, atau sangat lemah juga berasal dari masalah selama masa tetas. Kaki yang membengkok sering dikaitkan dengan suhu yang tidak stabil atau permukaan penetasan yang licin. Menetas tidak serempak, dengan selisih sampai dua hari, bisa dikaitkan dengan telur yang disimpan dalam lama berbeda atau suhu yang tidak merata di dalam mesin.
Kalau telur yang masuk mesin dikumpulkan dalam rentang waktu panjang, penetasan akan lebih tersebar. Kumpulkan telur dalam rentang sependek mungkin, dan simpan di tempat sejuk dan tidak lembap. Banyak panduan menyarankan tidak menyimpan lebih dari sekitar seminggu, tetapi batas pastinya bergantung pada kondisi tempat penyimpanan.
Menghitung Biaya Per Anakan Saat Daya Tetas Berubah
Dengan biaya yang saya hitung (telur Rp500.000 dan termostat Rp36.000, total Rp536.000, tanpa triplek bekas, 9 bohlam, dan listrik), 750 anakan berarti sekitar Rp715 per ekor.
| Daya tetas | Anakan dari 1.000 butir | Biaya per ekor |
|---|---|---|
| 65% | 650 | sekitar Rp825 |
| 75% | 750 | sekitar Rp715 |
| 85% | 850 | sekitar Rp631 |
Naik sepuluh poin persen menghemat sekitar Rp84 per ekor. Selisih itu kecil dibanding harga DOC sekitar Rp4.000, sehingga alasan utama memperbaiki daya tetas bukan menghemat uang per ekor. Alasannya adalah mengurangi telur dan waktu yang terbuang. Perbandingan dengan DOC juga belum setara, karena DOC umur 7 sampai 10 hari sudah melewati masa paling rentan, sedangkan anakan baru menetas masih butuh brooder hangat dan pakan awal yang belum saya hitung di sini.
Urutan Pemeriksaan yang Saya Sarankan
- Bedah semua telur gagal setelah hari ke-19 atau ke-20 dan kelompokkan sesuai enam gejala di atas.
- Hitung persentase tiap kelompok. Gejala yang dominan menentukan di mana Anda mulai memperbaiki.
- Kalau gejala 1 dominan, periksa indukan, rasio jantan, dan lama penyimpanan telur.
- Kalau gejala 2 dan 3 dominan, periksa suhu dengan termometer kedua dan kestabilan listrik.
- Kalau gejala 4 dan 5 dominan, periksa kelembapan dan ventilasi, dan kurangi membuka mesin menjelang menetas.
- Ubah satu hal pada satu waktu di tetasan berikutnya dan catat hasilnya, supaya Anda tahu perubahan mana yang bekerja.
Setelah Menetas
Anakan yang baru menetas pada umur 1 sampai 2 hari masih sangat rentan. Itu sebabnya patokan DOC di blog ini adalah anakan umur 7 sampai 10 hari. Panduan memilih bibit ada di Tips Memilih Bibit Puyuh Petelur Unggul. Kalau tujuan Anda membuat bibit sendiri dari persilangan, lihat Cara Membuat Final Stock Puyuh Sendiri.
Kesimpulan
Daya tetas 75 persen pada mesin rakitan berbiaya sekitar Rp715 per ekor sudah layak, tetapi telur yang gagal menyimpan petunjuk yang sayang dibuang. Dengan mencatat data tiap tetasan dan membedah telur yang gagal menurut tahap kematiannya, Anda bisa tahu apakah masalahnya ada di indukan, suhu, kelembapan, atau ventilasi. Penyebab yang saya tulis adalah dugaan umum, jadi ujilah dengan satu perubahan pada satu waktu dan bandingkan hasilnya dengan catatan Anda sendiri.

Komentar
Posting Komentar